Kemungkinan Kamu

Cinta itu aneh.
Pagi tadi ia mampir sebagai pesan suara,
padahal aku tidak mengirim apa pun
dan ponsel sedang kutidurkan
agar berhenti ikut campur urusan hatiku.

Pesannya singkat saja:
Jangan lupa bahagia.”

Lucu, sebab aku sudah lama lupa letak
rak kecil tempat bahagia terakhir kusimpan.
Seingatku, bahagia sudah kabur
tanpa pamit,
membawa payungku yang paling mengerti hujan.

Wahai entah-siapa di luar sana,
mungkin namaku pernah lewat
di telinga angin.
Tapi angin suka membesar-besarkan cerita,
jadi jangan langsung percaya.

Ia pernah membual padaku,
bilang aku ditakdirkan
berjumpa seseorang
yang selalu tersenyum
meski hatinya sedang mogok dinyalakan.

Kupikir itu dirimu.
Atau diriku.
Atau kasir minimarket
yang selalu bilang “terima kasih”
dengan suara seperti lampu yang nyala–mati.

Kadang aku merasa Tuhan
sedang bercanda.
Setiap kali aku minta petunjuk,
yang turun malah hujan—
hujan yang selalu ingat
bahwa aku baru menjemur hati
yang tak sempat benar-benar kering
karena angin sibuk mengurus hal lain.

Jika suatu hari kita bertemu,
tolong jangan kira aku jatuh cinta.
Tidak, tidak.
Aku cuma tersandung oleh kemungkinanmu,
lalu pura-pura baik-baik saja
sambil meniup perih
di lutut jiwa yang memar.

Aku sering ingin bicara serius,
tapi kata-kataku pemalu.
Mereka antre dalam kepala
seperti warga kelurahan menunggu sembako—
panjang, panas, dan tak jelas kapan selesai.

Tuhan, bila Kau berkenan,
pertemukan aku dengannya
sebelum hatinya berubah menjadi brankas
yang lupa kombinasi angka.
Aku tidak bisa membobol hati,
hanya bisa menunggu
meski jam dinding di rumah
sudah letih mengulang detaknya.

Dan jika nanti cinta itu tiba,
biarlah ia datang perlahan—
seperlahan pagi menemukan jendela.
Aku selalu suka yang lambat:
yang memberi ruang untuk ragu,
untuk takut,
untuk belajar berharap lagi
walau wajahku masih malu-malu.

Agar pada akhirnya
aku bisa tersenyum pada seseorang
yang semoga saja nyata,
bukan sekadar bayangan
yang terlalu rajin menemaniku.


______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)