Kepala yang Tidak Didesain untuk Tenang (Renungan absurd dari tubuh yang masih berfungsi, entah kenapa.)

Langit hari ini tampak sibuk,
seperti sedang menimbang siapa yang pantas bahagia.

Aku tidak mendaftar —
aku bahkan lupa caranya menaruh nama di daftar hidup.

Setiap hari, aku bangun karena tubuhku belum punya ide bagaimana caranya menyerah.

Kupikir kopi bisa menenangkan,
ternyata hanya menunda kecemasan. 

Aku belajar tertawa di depan kehancuran,
karena menangis kini terdengar kuno.
Semua orang sibuk membuat ringkasan hidupnya,
sementara aku masih mencari folder
tempat kesadaranku terakhir kali disimpan.

Kadang aku merasa sedang memainkan peran di teater tanpa naskah.
Penontonnya pergi, sutradaranya kabur,
dan lampunya mati,
tapi aku masih di sana —
berdiri di tengah absurditas
seolah kesalahan ini bisa disebut keberanian.

Aku iri pada hujan:
ia jatuh berkali-kali tapi tidak pernah malu.
Sementara aku,
sekali jatuh saja sudah sibuk membuat alasan spiritual.

Dunia bilang: “Kamu harus bersyukur.”
Oh tentu, aku bersyukur.

Setiap pagi aku bersyukur masih bisa merasa sesak.
Masih bisa menertawakan duka, 
masih bisa pura-pura waras
saat seluruh isi kepala sedang rapat darurat tanpa hasil keputusan.

Aku berbicara pada cermin
tapi pantulanku menatap balik dengan lelah seraya berkata:

“Kita harus bicara nanti saja, aku juga capek jadi kamu.”

Lucu ya,
bahkan refleksi pun memilih jarak aman.
Aku rasa hanya bayangan yang benar-benar memahami konsep sosial distancing
bahkan dari pemiliknya sendiri.

Malam datang tanpa suara,
membentangkan sunyi seperti seprai dingin.

Aku berbaring di atasnya, mencoba tidur,
Sementara pikiranku justru menyalakan lampu diskusi.
Topiknya?
Semua hal yang tak bisa kuubah dan tak bisa kuhentikan untuk dipikir

Mungkin aku bukan sedih —
aku hanya terlalu sadar
bahwa semua ini tidak masuk akal.
Bahwa hidup kadang terasa seperti iklan motivasi
yang gagal menjual produknya sendiri.

Dan di antara semua absurditas itu,
aku masih di sini,
menulis kalimat demi kalimat
seolah huruf-huruf ini bisa menambal lubang di dada,
padahal mereka hanya memperjelas bahwa lubang itu nyata.

___________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)