Kita adalah Burung dan Ikan yang Tak Sudi Merendah (tentang dua jiwa yang mencinta, namun tak pernah benar-benar bertemu karena kesombongan).



Burung jatuh cinta pada ikan di dasar samudra,
pada tatap bening yang tak tersentuh udara.
Di antara mereka, langit dan laut berseteru diam,
seolah semesta enggan memberi izin
pada cinta yang berani melawan hukum alam.

Burung berkata,
“Datanglah ke atasku, biar kuajari terbang.”

Ikan menjawab,
“Turunlah ke airku, biar kau tahu makna tenang.”

Mereka saling menunggu dalam kesombongan masing-masing,
dengan cinta yang lebih pandai meminta daripada memahami,
dengan rindu yang lebih ingin berkuasa daripada berpelukan.

Angin menertawakan, ombak berbisik getir:
“Lihatlah, dua makhluk yang mengaku saling mencinta, sedang sibuk membuktikan siapa yang lebih hebat.”

Mereka lupa,
bahwa cinta bukan perintah, melainkan pengertian;
bukan siapa yang tunduk,
melainkan siapa yang rela menanggalkan sayap dan insang
demi sejenak bernafas bersama.

Burung menatap bayang air yang memantulkan wajahnya sendiri,
“Apakah mencintai berarti kehilangan langit?”
Ikan menatap bias cahaya di atas permukaan,
“Apakah mencintai berarti mati kehabisan napas?”

Dan laut menjadi cermin bagi keangkuhan keduanya,
menyimpan percakapan yang tak pernah selesai:
tentang siapa yang lebih benar mencinta,
dan siapa yang lebih tulus menyiksa.

Rupanya ego terlalu angkuh untuk berenang,
dan kesombongan terlalu berat untuk terbang.

Sampai akhirnya semesta menegur dengan bahasa yang tajam:

Bila cinta tak sanggup berlutut,
maka biarkan waktu yang menelungkupkannya.

Sebab langit takkan pernah turun ke laut,
dan laut pun takkan naik tanpa kehilangan asin.

Siapa yang tak mau mengalah,
akan diajari oleh kehilangan —
betapa mahal harga sebuah kerendahan.

Maka laut tetap asin,
langit tetap tinggi,
dan di antara keduanya—
ada rindu yang abadi, tak pernah bersatu. 

Mereka pun akhirnya sadar,
bahwa cinta tanpa kerendahan hati
adalah melodi dari nyanyian yang hanya terdengar oleh orang tuli.

Burung kehilangan arah di langit yang sunyi.
ikan menua di kedalaman yang tak lagi biru,
dan waktu, dengan sabar yang getir,
mengubur nama keduanya di antara riak dan awan—
sebagai peringatan bagi yang mencinta
namun tak mau mengalah.

Cinta yang menolak merendah,
akan ditundukkan oleh waktu.
Dan mereka yang menolak belajar dari alam,
akan diadili oleh kesunyian.

____________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)