Lentera di Tengah Hutan

Aku pernah mencintai seperti menyalakan lentera di tengah hutan—
hutan yang tak pernah menahanku, tak pernah memanggilku pulang.

Cahaya kuberi, hangat kubagi, sementara seluruhnya
tak pernah benar-benar berjalan searah dengan langkahku.
Cintaku setenang angin merapikan daun gugur:
Berharap dipahami,
di sentuh.

Perlahan hatiku menjadi tanah basah diguyur hujan dari langit.
Luka-luka  tumbuh seperti rumput liar—
tak kuundang, tak kuinginkan, namun diam-diam mencengkram tepi napasku.

Kupungut pahit dari malam pecah, kubiarkan diriku mengalah
hingga batasnya bergetar, seolah kesetiaanku mampu
menggeser arah yang telah ditetapkan semesta.

Ternyata tidak.

Tidak semua pertemuan dilahirkan untuk menjadi jembatan panjang;
sebagian hanyalah perahu kecil,
 singgah di dermaga jiwaku,
menyisakan riak hangat sebelum hilang tanpa jejak langkah.

Pernah menjadi teduh, tetapi tak pernah memilih tinggal.
Dan aku mengerti—kami hanyalah dua burung,
kebetulan berteduh di ranting yang sama,
bukan dua sayap yang diciptakan untuk menari dalam irama serupa.

Lalu malam, dengan lembut, berbicara padaku.
Mengetuk pintu hati seraya berkata,
“Menggantungkan harapan pada manusia
adalah mengaduk laut dengan tangan kosong;
pelukannya sementara, tarikannya abadi.”

Dan untuk pertama kalinya aku tak lagi membantah suara itu.

Maka kubiarkan kenangan turun dari bahuku
seperti senja yang tahu kapan harus pulang pada cakrawala.
Cinta itu tetap indah—tetap harum seperti bunga mekar dalam satu malam, namun cukup
untuk mengharumkan setengah perjalananku di dunia.

Kusempuh diriku sendiri.
Kutemukan ruh yang sejak lama menunggu,
ruh yang mengingatkanku bahwa rumah sejati
tak pernah jauh—hanya tertutup oleh bayang yang kucari di luar diriku.

Dan aku paham: cinta tidak harus dimiliki untuk menjadi benar.
Kadang, cukup menjadi itama yang bergetar lembut dalam dada,
sebelum akhirnya kututup halamannya
dengan restu yang tumbuh perlahan dari puing-puing kecewa.


_______
Karya: Sarah Bneiismael 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)