Melepas yang tak semestinya

Siang merobek cahaya di pelipisku.
Angin menari, menyisir ruang-ruang kosong di hati.

Hatiku menjerit, menuntut jawaban:
“Mengapa aku harus jatuh?”

Bayangku terseret di serpihan senja,
sementara bayangmu melintas, tipis, tersenyum.
Awan menunduk, meramu rindu yang lengket di udara,
menekuk diam di rongga senja yang menahan napas.

Perasaan ini berkeliaran, menyalakan api di relungnya sendiri,
lari seperti kuda hampa tanpa pelana,
bertanya:
“Kenapa aku memilih yang salah?”

Aku menunduk, menulis kata patah:
kasihan pada diri sendiri, kecewa pada langkah yang tak bisa dihentikan.
Namun hati masih bergaung, ingin tetap bersama.

Siang menumpuk di dada, membawa bisikan halus:
Cintailah tanpa menahan.
Lepaskan tanpa jeritan.
Biarkan langkah tetap ringan, meski dunia menertawakan.

Aku merasa bersalah—
cintaku tak semestinya merambat keseluruh nadi.
Rindu yang menuntunku pada absurditas,
Tak bisa dihentikan.

Namun hatiku perlahan mengerti:
“Biarkan mengalir.
Biarkan waktu merapikan serpihan yang bertebaran.
Biarkan angin membawa yang tak bisa dimiliki,
tetap utuh di tengah kehilangan".

Akhirnya, aku menunduk, membiarkan semuanya pergi.
Fragmen demi fragmen, marah dan rindu berdansa.
Aku mengerti absurditas cinta.
Aku tersenyum pelan.

Ya sudah…
Aku biarkan.

Aku menyerah pada perasaan—
tanpa menahan, tanpa menuntut,
tanpa penyesalan.
Hanya menerima bahwa mengalah adalah cara paling mulia
untuk menjaga hati tetap lapang dan tenang.


______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)