Membenciku adalah kesia-siaan
Masuklah, wahai kafilah pemikul hitam—
telah kutubuhi dengki dengan darah upacara,
agar jalanmu tak tersesat.
Jentikanlah darah pada kabut;
aku telah mereguk hitam
sampai malam pucat dan kelelahan
tak mampu lagi menyeruput lebih dari yang kutelan.
Jejampi gugur
terputus dari akar gelapnya,
Membenciku adalah kesia-siaan
mengering tak sempat bertuah.
Kau,
kau datang,
membawa segelas darah
untukku yang terbiasa berenang di dalamnya.
Aku telah selesai
sebelum upacara kehilangan sakralnya.
Tak ada yang lebih membenciku selain diriku.
Bukankah itu sia-sia?
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar