Negeri Ini Lupa Makna Merdeka
Di Tanah yang dulu disirami darah perjuangan,
tumbuh gedung-gedung tinggi yang menenggelamkan nurani.
Di bawah bayang bendera merah putih,
keadilan berjalan pincang,
dan kebenaran berbisik lirih di antara riuh pesta kuasa.
Pahlawan yang dulu menjemput maut demi kemerdekaan,
kini tinggal nama di buku pelajaran.
Sementara mereka yang hidup dari warisan pengorbanan,
menulis ulang arti perjuangan dengan tinta kepentingan.
Negeri ini pandai berpidato tentang jasa,
namun gagap meneladani maknanya.
Bunga ditabur di pusara,
tetapi akar moralnya telah lama kering tanpa siraman makna.
Setiap tanggal merah, ribuan mulut mengucap hormat,
namun tidak benar-benar mengingat.
Kebanggaan menjadi ritual,
sementara pengorbanan menjadi slogan yang dijual.
Gedung-gedung rapat difasilitasi berpendingin udara,
nama dan foto pahlawan digantung di dinding —
bukan untuk diingat, tapi untuk memperindah ruangan.
Sedang di luar sana, nilai-nilai mereka terkubur perlahan,
di bawah tumpukan janji yang tak pernah ditepati.
inilah bangsa kita yang lucu:
mengagungkan masa lalu yang tak lagi ia pahami,
mengutuk penjajah.
Kemudian menyanjung penindas yang lahir dari tanahnya sendiri.
Merdeka — katanya,
padahal masih terjajah oleh kerakusan, oleh ketakutan, oleh lupa.
Negeri ini bebas,
namun kehilangan arah,
karena kemerdekaan telah berubah menjadi kenyamanan,
dan pengorbanan — menjadi legenda yang tak lagi dipercaya.
Pahlawan hanyalah nama di prasasti batu,
sementara yang berkuasa menulis sejarah dengan huruf yang bisa dihapus.
Ironi menggema di udara:
bangsa yang dibangun dengan darah,
kini berjalan di atasnya tanpa rasa bersalah
Tak terarah
_________________
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Puisi “Negeri Ini Lupa Makna Merdeka” menampilkan kritik sosial tajam terhadap kemunafikan bangsa pascakemerdekaan.
Diksi seperti “gedung-gedung tinggi yang menenggelamkan nurani” dan “menulis ulang arti perjuangan dengan tinta kepentingan” menunjukkan ironi moral modernitas. Nada satir dan kontemplatif berpadu, menggambarkan degradasi nilai perjuangan menjadi simbol kosong.
Struktur puisi mengalir dari nostalgia sejarah menuju penelanjangan realitas kini, lalu berpuncak pada refleksi: kemerdekaan berganti menjadi kenyamanan, dan pengorbanan menjadi legenda.
Secara keseluruhan, puisi ini kuat, lugas, dan berjiwa retoris—membawa semangat Rendra-esque: kritik sosial yang elegan namun menggigit.
Komentar
Posting Komentar