Ruang untukmu
Ku letakkan namanya
di punggung angin yang tak tahu arah.
Biarlah ia membawa sisa gaung bisu
yang dulu kita rawat dalam senyap.
Sahabatku,
jangan tafsirkan wajahku
sebagai penahan gerimis.
Aku telah menanggalkan riwayat itu
seperti bulir garam
yang lupa akan lautnya.
Dengan sadar,
aku menimbang kemungkinan:
kau dan dia—
dua benih yang mungkin tumbuh
di ladang yang pernah kutinggalkan,
tanpa menunggu siapa pun menoleh.
Ketahuilah,
aku tak membawa apa pun darinya.
Hatiku kembali menjadi tanah lengang,
tempat pijakan tak meninggalkan jejak,
tempat desir hanya lewat,
tanpa ingin menetap.
Jika suatu hari kalian saling setubuh
dan alam bersenandung setuju,
biarkan saja.
Tak ada yang pecah.
Tak akan ada aku yang menuntut ulang.
Aku telah menjadi nol—
bukan kehilangan.
Ini adalah ruang bening,
yang tak menuntut siapa pun untuk mengisi.
Di tikungan waktu lain,
mungkin aku juga akan dipertemukan
dengan seseorang yang menyimak hatiku.
Jadi, sahabatku—
pergilah jika hatimu bergerak ke sana.
Tak ada larangan,
tak ada utang perasaan.
Yang tersisa padaku
hanya mantra lembut:
Biarkan yang berpadu menjadi terpadu.
Biarkan yang pergi membuka jalan baru.
______
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar