SERPIHAN TANPA JEMBATAN
Langit tergantung di ujung jari,
wajah-wajah melintas tanpa menyapa,
doa bergetar di celah antara detik dan bayang,
suara Tuhan bergaung, dan melarung.
Sulur cahaya menelusup ke tubuhku,
menjadi nyawa yang tak bernama,
burung-burung memperebutkan ruang di kepalaku,
aku hanya menonton, membiarkan mereka
menemui, mengisi, atau sekadar singgah.
Kabut menempel di sudut rumah,
rintik-rintik menulis pesan yang tak terbaca,
detik-pecah dan udara-luka bercampur,
bayangmu terjepit di antara lampu dan dinding malam,
aku titik air yang menolak jatuh,
menjadi cermin yang memantulkan dirimu
lebih tajam, lebih dingin, lebih asing.
Mereka berbicara dalam menara kata,
aku pecahan kaca yang terserak sendiri,
tidak diinjak, tidak disentuh.
Menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Di ujung patah ini, aku menyadari:
serpihan paling indah
adalah yang dilepas,
tanpa suara, tanpa janji, tanpa kepastian.
Tanpa aku.
__
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar