Tempat ku meletakkan dunia

Kakiku pernah jatuh berkali-kali,
seperti kalender kusut
yang terus kehilangan tanggal-tanggalnya.
Lantai menampung tubuhku
dengan kesabaran yang tak pernah kumiliki,
sementara bayanganku
melarikan diri ke sudut ruangan,
mencari arti dari semua langkah yang patah.

Ketika aku bangkit,
Takut mendekat dan berkata,
“Aku hanya ingin menumpang sebentar.”
Ia duduk di bahuku,
mengibaskan kenangan masa kecil
yang tak sempat tumbuh.

Aku punya hobi yang aneh:
berpura-pura tenang
di tengah pasar suara dalam kepalaku.
Di sana, Marah sering datang
menggedor pintu dadaku,
menyuruhku menatap cermin
yang tidak lagi mengenal namaku.
“Lihatlah,” katanya,
“Kau hidup dari retakanmu sendiri.”

Di gang sempit antara tulang rusukku,
Lelah menjemur selimutnya,
menggantungkan sunyi pada tali rafia
agar kering sebelum malam tiba.

Aku pernah bercita-cita
menjadi angin—
bukan untuk pergi,
tapi untuk menyusup ke celah-celah hati
yang terlalu panas menahan dirinya sendiri.
Aku ingin menjadi dingin
yang mampir di jendela orang asing
dan mengatakan dengan lirih,
“Kau tidak sendirian.”

Aku, manusia yang dibangun dari sisa-sisa:
kekecewaan yang berbaring
di kursi tamu tanpa tuan,
keterpurukan yang menata rambutnya
di depan cermin hancur,
seolah siap ke pesta
yang tak mengundang siapa pun.

Perjalanan panjangku
mengumpulkan benda-benda absurd:
peta yang kehilangan utara,
jam yang berhenti hanya pada detik-detik buruk,
lampu jalan yang menghafal semua gang
ke arah ketidakpastian.
Dari semuanya,
aku belajar menambal tubuhku
dengan pelajaran yang tak pernah selesai menjelaskan diri.

Namun setiap malam,
aku menemukan satu kursi kosong
di ruang paling sunyi dalam diriku;
di sana aku meletakkan dunia.
Aku biarkan keberatan-keberatannya
jatuh seperti pakaian basah
yang digantung pada paku tua.

Lalu Pasrah berdiri perlahan,
Memeluk diri,
berkata dengan suara yang jarang muncul,
“Serahkan saja. Ada tangan
yang lebih luas dari seluruh kehilanganmu.”

Kepada Yang Maha Menghidupkan,
kulemparkan seluruh hiruk-pikuk bumi;
sebab hanya Dia yang memahami arah langkahku
ketika Bondowoso, Jogja, dan Balikpapan
dalam kenangan
terus bergeser seperti kota-kota
yang diam-diam menuntunku belajar melepaskan.

Dan pada suatu lirih yang sulit kuterjemahkan,
aku menitipkan seluruh retakku
ke dalam tangan-Nya,
lalu berbisik dalam ikhlas yang tumbuh perlahan:
“Ya Allah, Engkaulah sebaik-baik tempat pulang.”



_________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)