Tumbal untuk kemajuan

Saudara-saudara,
mari kita tempelkan telinga
pada trotoar yang menyimpan gelisah,
di bawah keramik yang dilicinkan sebagai wajah kota.

Di sana, isi bumi menyusun rencana.
Tanah, pohon, air, api, angin, batu—
seluruh tubuh alam merapat,
berdialog murka dan menggeram dalam satu napas.

Mereka merencanakan kudeta atas penduduk bumi,
menuntut balas atas keberadaan
yang dipaksa diam oleh aturan menjadi garis tanpa suara.

Sementara di ruang pembuat keputusan,
alat ukur diasah semakin congkak,
bersiap memahat ulang alur air dan lekuk tanah.
Sungai digeret dari jalurnya,
bukit dipangkas dari martabatnya,
pohon disuruh minggir,
derit patahnya dibungkam demi agenda pembangunan
yang dibalut jargon hilirisasi.

Saudara-saudara,
kata “kemajuan” menyambut arak-arakan proyek
dengan seringai binatang lapar—
melahap hutan hingga baris banirnya,
mengunyah lereng sampai asin darahnya,
meneguk sungai hingga sesak nadinya.

Kita diajak percaya
bahwa beton adalah bisik masa depan,
bahwa mesin memiliki nurani
yang tak perlu menengok jeritan genting
dari napas bumi.

Dan apa yang terjadi?
Sungai memuntahkan arus getir,
mengangkat kemarahan,
menabrak tanggul buatan
yang mengurung langkahnya bertahun-tahun.

Lalu tudingan berhamburan:
musim dicerca, langit diseret ke meja dakwaan—
sementara tangan-tangan yang dulu
menekan stempel izin pembangunan
berlindung di balik lensa dan mencuci tangan, menyalahkan cuaca, menuding alam.

Hahaha—
negara ini piawai kamuflase:
longsor dijuluki “ketidakpastian,”
banjir disebut “ritme alam,”
runtuhnya rumah rakyat dibiaskan sebagai
“penyesuaian struktur.”

Bencana dibuat ramah di telinga,
menjadi tirai menutup tebing yang digunduli,
menjadi selimut bagi akar yang dipotong.
Bahasa mengilap;
fakta meloloskan diri;
bumi menggertakkan giginya.

Kalian tahu?
Petaka tidak lahir dari awan hitam.
Ia menuruni tangga gedung kekuasaan,
mengusung bau tinta izin yang belum kering,
mengikuti jejak kebijakan yang rabun,
buta—dan terlalu lama tuli.

Dan ketika bencana datang,
rakyat menjadi tumbal.
Kami dibiarkan berdiri di antara deras dan reruntuh,
seakan-akan tubuh kami memang diperalat 
menjadi tameng bagi keputusan yang tidak kami buat.
Kami tidak benar-benar diselamatkan.

Kami
diserahkan kepada alam,
agar tak ada yang bisa menuntut
selain reruntuhan itu sendiri.

Bumi tak lagi mengenal adab:
ia mengetuk, membuka, masuk—
membawa daftar luka
yang tak pernah diminta tanda tangan persetujuannya.

Setiap kota dimintai pertanggungjawaban
atas nasib alam yang ditelanjangi.
Tanah yang lama diam mengetuk dari bawah,
mengirim getar kecil—
lalu hentakan besar—
peringatan yang tak sempat dibaca.

Hutan mengibaskan amarahnya,
mengirim bayang yang memanjang ke jendela,
mengulum kata-kata
yang tak pernah diberi ruang di podium.

Batu-batu merapatkan barisnya,
menggeram dalam diam yang berat—
diam tidak lagi pasrah,
diam yang menyimpan dendam
pada tangan pengukir peta luka bumi.

Akar-akar yang tercabut menuntut,
menjulurkan pertanyaannya kembali:
siapa yang memutuskan nasib
tanpa mendengar tanah?

Dan ketika beban menggunung
ditumpuk tanpa jeda—
ditumpuk, ditumpuk—
bumi mendongak; alam murka,
meluapkan segala yang ditahan terlalu lama:
air menuntut jalannya,
lereng melepaskan genggamannya,
memporak-porandakan pemukiman
yang tak pernah dimintai pendapatnya.

Lalu bagaimana dengan rakyat kecil?
Tentu saja merekalah yang ditumbalkan—
diterjunkan ke palung risiko
yang sejatinya bukan milik mereka.
Kami hanya menjadi angka di laporan,
nama yang dibacakan dengan suara datar,
bekas lumpur di sepatu kebijakan.

Pembangunan disebut sebagai stabilitas,
dirayakan sebagai kemajuan negara
dengan cara menanggalkan akar,
menggunduli nadi bumi,
membiarkan rakyat memungut
sisa-sisa harapan yang tak pernah dikembalikan.

Dan bumi, yang selama ini diam,
akhirnya mengucap satu nama: Kelalaian—
seraya menjatuhkan vonisnya
melalui deras, runtuh, dan ledakan
yang tak lagi bisa dibungkam,
meninggalkan sejarah kelam
bagi masa depan sebuah bangsa.


_________
Karya: Sarah Bneiismael 
.
.
.
Note: Naskah ini mengkritik kelalaian pemerintah dan kebijakan pembangunan yang merugikan alam serta masyarakat.

 Naskah ini menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan keselamatan lingkungan dan rakyat kecil berakibat pada bencana, di mana masyarakat menjadi korban yang menanggung risiko tanpa perlindungan.

 Naskah ini menggambarkan kerusakan alam dan bencana sebagai konsekuensi nyata dari keputusan manusia yang lalai, tidak bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan sesaat di atas kesejahteraan masyarakat serta kelestarian bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)