Uang dalam gelap kota
Kota merenggangkan kulit malamnya,
membiarkan lampu-lampu berpendar,
luka dipoles agar tampak indah.
Uang muncul dari celah-celah gelap,
bergerak setenang racun; ia tahu
di mana letak jantung manusia bersembunyi.
Uang menyentuh leher seseorang—
dingin, membelai, erotis—
membuat napas pecah menjadi bisu.
Dalam sentuhan itu, pikiran kacau;
moral yang tegak mulai roboh
seperti tulang rapuh yang
dipeluk terlalu keras.
Di sebuah klub,
uang menautkan dirinya pada pinggang seorang gadis yang dulu begitu percaya pada batas-batas tubuhnya.
Ketika uang menekan punggungnya,
ia mendengar getar asing—
getar yang menukar masa depan
dengan sebuah jamuan yang memabukkan.
Seorang pria di sudut ruangan
meminum bayangannya sendiri,
karena uang meremas pundaknya
dengan kelembutan yang mengancam.
Di bawah remasan itu, harga dirinya mengecil,
menjadi serpihan yang bisa ditiup pergi
tanpa ia sadar kapan hilangnya.
Dan di sebuah kamar hotel,
uang membaringkan tubuh seorang wanita
yang dulu berteriak lantang tentang kebenaran.
Uang merayap naik, meraba dada,
meremas perlahan dengan kelembutan.
Mencari denyut terakhir
yang masih berani menolak.
Saat ia menggigit lembut bahu wanita itu,
hal-hal yang pernah suci baginya
jatuh satu per satu—
sebagaimana pakaian
yang telah ditanggalkan dari seluruh tubuhnya.
Ia merelakan segalanya
demi sentuhan yang menjanjikan kekuasaan,
sekalipun tahu kuasa itu palsu,
gelap,
dan buta.
Di lorong rumah sakit,
uang membelai pipi seseorang
yang tengah putus asa pada kesembuhan.
Sentuhan itu dingin,
menanamkan ketakutan;
ia memainkan peran Tuhan,
seolah mampu memperpanjang denyut jantung
atau mencabutnya seketika.
Kota pun bersujud tidak kepada Yang Maha Kuasa lagi.
Mereka mengabdi kepada uang
yang berhasil mendoktrin agar menyerahkan seluruhnya—
serupa desah
yang mengajarkan manusia
cara baru untuk mengkhianati dirinya sendiri.
Pada akhirnya,
dengan napas memburu,
uang mendekatkan wajahnya pada manusia,
mencium, menjilat, dan melumat bibir perlahan sampai suara pecah, basah;
menekan dada sampai gairah dan takut bercampur,
membiarkan tubuh bergetar
tanpa pilihan.
Pada detik itu barulah paham—
semua yang tersisa hanyalah diri yang telah tunduk,
tanpa sempat diselamatkan.
_________
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Note: Puisi ini menggambarkan bagaimana uang perlahan mengambil alih hidup manusia melalui godaan, kebutuhan, dan ilusi kekuasaan.
Uang hadir sebagai figur yang merayap ke berbagai ruang—kota, tubuh, dan batin—hingga keputusan serta moral seseorang mulai bergeser.
Setiap adegan memperlihatkan manusia yang kehilangan keteguhan diri ketika berhadapan dengan tekanan ekonomi dan daya tarik kemewahan.
Pada akhirnya, uang menjadi pusat kendali yang membentuk tindakan, mengubah nilai, dan membuat manusia rela mengorbankan bagian terdalam dari dirinya demi rasa aman dan kuasa yang tampak menjanjikan.
Komentar
Posting Komentar