Versi lebih baik

Di lekuk terdalam ruang ingatan
Rongga hening menyerap pantul langkah
sebagaimana pasir menyeruput hujan pertama.

Tak ada suara pulang
tersisa hanya udara renggang.
Desir tipis, sirip bayang terpelintir
sebelum fajar membuka garisnya.

Ketika dunia menjauh
dengan pandangan yang memudar,
ada gerak halus di bawah arus waktu:
seutas sinyal
muncul dari kedalaman,
mengikat ulang serabut hidupmu dengan benang tipis
yang meriap seperti urat laut
di antara arus gelap.

Kesedihanmu terangkat perlahan,
menjadi kabut pucat
yang disentuh angin malaikat tanpa tapak.
Turun kembali ke dadamu
sebagai serpih bening
yang menyimpan bayang
dari sesuatu yang sudah lama menunggu.

Sakitmu menggores sebuah ruang—
relung sunyi
dilapisi senyap setipis kulit air.
Allah menahannya seperti batu mungil
yang menghangat di tengah telapak hatimu,
menuntun langkah ke arah
yang terarah.

Luka datang perlahan,
menyentuh engsel pintu yang tak pernah bergerak.
Ia mendorong dinding yang kau kira perlindungan,
mengalihkan tubuhmu ke satu pusat yang tetap terbuka meski pandanganmu goyah.

Dengarlah:
malam sering merunduk di atas nyalanya
untuk menelanmu,
namun baramu bertahan; pucat, rendah,
Berkilau lembap di pipi batu.

Pukulan hari
menimpa bahumu,
namun tubuhmu tetap berjalan,
dipindahkan angin, ditata ulang waktu,
menjadi keras seperti inti mineral.
Tak dapat digulingkan.

Pada hari yang jauh,
ketika lipatan waktu mengendur perlahan
dan menjadi lembut.
Kau akan melihat:
Ukiran luka di tubuh batinmu membuka apa yang luput
dari mata mereka yang menutup rasa.

Tanpa perih, jiwa dangkal.
Sumur yang menolak kedalaman.
Engkau—
digali terus
hingga air paling jernih menyembul dari dasar yang lama tersembunyi.

Takdir memanggilmu dari kejauhan:
panggilan yang tak menunggu.
Kakimu mengikuti, diperluas angin, digeser jarak, dilunakkan perjalanan, seperti serat laut yang ditempa ombak hingga menjadi benang yang mengikat
kekosongan hari.

Ketika sunyi tumbuh sebagai padang pucat di dalam dadamu,
kau merasakan geraknya:
dirimu memanjang melewati luka, melewati malam, turun ke dalam menuju ruang yang dulu tak kau sulam.

Allah menambah ruang itu—
menarik dinding hingga batasnya hilang, meninggalkanmu dengan jernih baru,
dengan senyap yang matang,
dengan tubuh batin yang dibentuk perlahan oleh goresan-goresan.
Menemukan diri dengan versi lebih dalam, Lebih dari sekedar hidup.


_______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)