Yang tetap dari segala yang luruh
Pada pagi yang berjalan pelan
seperti pikir-pikir daun sebelum jatuh,
kita akhirnya sadar bahwa hidup
hanyalah singgahan tipis—
semacam bayang bening
yang dititipkan sesaat pada embusan hari.
Di setiap sudut perjalanan,
selalu ada gurat halus yang menggeser keutuhan,
sejenis sunyi yang merayap dari balik peristiwa,
atau kehilangan yang tumbuh diam-diam
seperti embun yang lupa pulang ke langit.
Dan ketika perubahan datang
dengan langkah seteduh abu
—menghapus nama, meluruhkan tempat,
menggugurkan kenangan yang dulu berpendar—
kita melihat satu hal
yang tak pernah goyah oleh edaran masa.
Ia lahir dari ruang terdalam
yang tak berhasil ditemukan oleh duka:
Cinta.
Ia tak meminta diingat,
tetapi menetap begitu saja
di sela napas yang tak kita hitung,
menyala lembut meski dunia
perlahan kehilangan warnanya.
Pada suatu jeda
yang datang tanpa tanda,
kita akan tahu bahwa segalanya
kembali mengendap menjadi hening:
langkah, suara, bahkan desir yang dulu akrab.
Dan di tengah hening yang tumbuh itu,
ada sesuatu yang tetap mengikuti,
seperti gema yang enggan berpulang—
cinta yang dulu kita lepaskan
dengan tangan yang tak mengharap kembali.
Sebab hidup hanya singgah sebentar—
sekadar seulas masa
yang menempel tipis pada perjalanan kita.
Tetapi cinta,
dialah yang mengendap paling tahan,
mengiringi kita
hingga langkah terakhir
menemukan pintunya sendiri.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Note: Hidup mungkin hanya persinggahan yang mudah pudar, namun di antara yang luruh dan hilang, selalu ada cinta yang diam-diam menyalakan kembali keberanian kita—membimbing langkah, menenangkan luka, dan mengingatkan bahwa setiap perjalanan tetap memiliki alasan untuk dilanjutkan.
Komentar
Posting Komentar