Aku bersyukur kau pergi
Awalnya aku mencoba tenang.
Setiap pertemuan memiliki batasnya,
dan setiap orang berhak menentukan arah.
Aku menerima itu sebagai bagian dari hidup,
meski hatiku tidak selalu segera paham.
Aku melihat kepergianmu
tanpa terburu-buru menyimpulkan apa pun.
Kupikir perpisahan adalah proses
yang bisa dilewati
dengan kepala tetap tegak.
Namun ada hal yang akhirnya
tidak bisa lagi kuabaikan.
Kau pergi kepada seseorang
yang, sejujurnya,
tidak menunjukkan sesuatu
yang lebih baik dariku.
Lalu aku bertanya:
apa yang sebenarnya kau lihat darinya?
Nilai?
Kejujuran?
Atau hanya kemudahan
agar kau tak perlu bertanggung jawab?
Di titik itu, aku berhenti bersikap lunak.
Aku harus jujur pada diriku sendiri:
ini bukan tentang selera,
ini tentang nalar.
Memilih dengan menutup mata,
menukar yang hadir dengan yang asal ada,
lalu menyebutnya keputusan—
itu bukan kesalahan kecil,
itu kebodohan yang dilakukan dengan sadar.
Apakah kau benar-benar tidak melihat
apa yang sedang kau tinggalkan?
Atau kau melihatnya,
lalu memilih berpaling
karena kejujuran menuntut keberanian
yang tidak kau miliki?
Aku marah,
dan aku tidak menyangkalnya.
Aku tahu apa yang kuberikan.
Aku tahu bagaimana aku mencintai.
Dan aku tahu,
itu bukan sesuatu
yang pantas diperlakukan
sebagai pilihan sementara.
Namun perlahan aku mengerti,
ini bukan tentang merelakanmu.
Ini tentang diselamatkan darimu.
Aku bersyukur kepada Tuhan
karena telah menjauhkanku
dari seseorang
yang hatinya keliru saat memilih,
yang pikirannya kalah oleh kenyamanan,
yang lebih memilih jalan mudah
daripada jalan yang benar.
Kehilanganmu
ternyata bukan kerugian.
Ia adalah perlindungan.
Sebab orang yang mengambil keputusan
dengan cara seceroboh itu
tidak sedang mencari cinta,
ia sedang melarikan diri
dari tanggung jawabnya sendiri.
Aku tidak perlu merasa kalah
oleh siapa pun yang kau pilih.
Pilihanmu sudah cukup
menjelaskan siapa dirimu.
Kini aku berdiri
dengan kesadaran yang utuh.
Jika seseorang ingin tinggal,
ia akan memilih dengan pikiran jernih
dan hati yang berani.
Jika tidak,
aku lebih memilih sendiri
daripada bersama orang
yang bodoh dalam mencintai.
Aku tidak merelakanmu.
Aku bersyukur kehilanganmu.
Dan itu adalah titik
di mana aku berhenti meragukan diriku sendiri.
____
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar