Aku dan biarkan angin berlalu
Di Tempat dimana Langit dan Tanah Bersatu
Pasir-pasirnya tersusun dengan harmoni alam, setiap satu membawa esensi tersendiri.
Tak ada jejak yang pernah mengakar di permukaannya,
tak ada sosok yang pernah meluangkan waktu untuk merenungi apa yang ada di bawah lapisannya.
Berdiri utuh dalam kesendirian
dianggap Cacat.
Pengetahuan tumbuh
dari ego sendiri.
Angin Berkelana
melintas dengan gesit tanpa tujuan pasti, menyapu segala yang ditemuinya dengan hembusan yang semena-mena, mengangkat ekspektasi sebagai bukti tak terbantahkan.
Mari sepakati, menybutnya:
Si cacat logika
Pembawa zarah gelap.
Menyatakan kepahitan yang tak pernah dialami,
mengaku memahami meskipun tak pernah mendalami.
Tunas Kokoh
Berdiri tegak dengan duri. Menyembunyikan kedamaian,
Menyaksikan bagaimana angin mempengaruhi seluruh entitas.
Tempat air yang dulu jernih, mulai melihat dengan pandangan keruh,
semak-semak yang tumbuh di sekitar mulai menjauhi tanpa alasan.
Merasa jadi penuntun yang paling cerdas. Pembawa kabut, menghalangi pandang.
Pasir masih tenang
Masing-masing bergerak lembut saat angin berlalu, kemudian kembali menyusun diri dengan rapi.
Kemarahan hanya akan membuatku seperti hembusan yang tak terkendali,
kebencian akan membuatku terbang tanpa arah.
Sebab yang hakiki tidak membutuhkan suara untuk dikenali,
dan yang keliru tidak akan bertahan saat ia akhirnya kembali.
Pada Akhirnya
Angin yang lesu berhenti di ujung hamparan itu, melihat dirinya menghilang dari pandangan.
Zarah yang dibawanya mulai menetap di tanah.
Dan kejernihan tempat air kembali muncul seiring hilangnya kabut.
Menyadari segala tutur yang pernah diungkapkan hanyalah hembusan yang berlalu.
Hamparan itu tetap ada — kokoh, luas, dan penuh dengan makna,
Tak perlu membuktikan apapun.
Kita mengenalnya,..
Gurun,...
Atau mungkin,... AKU.
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar