Aku, Kabut, dan Keheningan

Kadang aku bertanya
apakah sebuah harapan sederhana harus dianggap aneh?
Misalnya, merindukan kabut musim dingin turun dan menutup dunia,
di tempat yang terlalu riuh untuk diam,
dan terlalu bangga pada kecepatan sampai lupa bernapas.

Dalam imajinasiku, kabut datang perlahan,
menyentuh tanah dan 
Menelan keramaian.
Hidup yang akhirnya menyadari
bahwa manusia terlalu sering berlari mengejar hal-hal
yang bahkan tak punya tujuan.

Aku membayangkan langkah-langkah menjadi lembut,
suara menjadi samar,
dan waktu tidak lagi mengejar siapa pun.

Pada momen seperti itu,
setiap helaan napas terasa seperti pengakuan rahasia:
aku masih ada, meski tak ada yang memperhatikan.

Kadang muncul rindu pada dingin yang memperlambat denyut,
mengunci kata-kata yang tak perlu diucapkan,
dan meredam keributan dalam diri
yang selama ini menuntut jawaban atas pertanyaan. 

Ada imaji tentang danau tertutup embun beku tipis—
hening, rapuh, elegan dalam caranya sendiri.
Permukaannya tampak tenang,
sementara kedalaman tetap bergerak diam-diam seperti luka
yang enggan sembuh juga enggan hilang.

Dalam benak ini, kabut musim dingin menyerupai pengingat—
bagi mereka yang pernah bermimpi, lalu hampir melupakannya:
hidup kadang muram, kadang melelahkan,
meski tetap menyimpan ruang kecil
di mana kelembutan masih mungkin terjadi.

Dan dari semua gambaran itu, mungkin yang paling pahit ialah:
ada keinginan untuk menghilang ke dalam kabut.

Jeda dari naskah hidup
yang terasa terlalu panjang untuk dipahami,
namun terlalu singkat untuk diperbaiki.

Aku membayangkan tubuh larut dalam keheningannya—
dibungkus dingin yang tidak menghakimi,
tidak menuntut senyuman,
dan tidak memaksa luka menjadi pelajaran.

Hanya diam.
Hanya keberadaan tanpa peran.

Hingga pagi datang dengan kilau pucat
yang merayap perlahan di balik kabut.
Saat itu, aku bangkit kembali—
tanpa janji untuk menjadi lebih kuat,
tanpa deklarasi kemenangan,
hanya seseorang yang akhirnya menerima
bahwa rindu, letih, dan kehilangan arah
juga bagian dari hidup.

Dan entah mengapa,
itu terasa cukup. 


____________
Karya Sarah Bneiismael 
Bondowoso 4 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)