Arus akan datang
Di antara hal-hal yang kita sebut rasa,
aku mengenalnya sebagai laut yang bernapas;
datang ke tepian, menjauh ke dalam,
lalu bersikap seolah tak pernah berubah.
Aku ingin menjadi pasir yang cukup lembut baginya—
tidak membuatnya ragu untuk menapak,
tidak pula mudah terhempas pergi.
Aku ingin jejak kakinya tetap tinggal.
tanpa dorongan untuk menepi ke lain pantai.
Kita sering terjatuh oleh air yang tampak tenang di permukaan,
oleh kilau yang memikat matahari,
oleh suara gelombang yang menyapa dari kejauhan.
Kita memeluk kesan,
tanpa sungguh menyelami
arus yang menggerakkan segalanya dari dalam.
Aku membayangkan hatinya bergerak bersamaku—
tidak selalu seirama,
namun cukup saling tahu
kapan harus mendekat
dan kapan memberi ruang untuk surut.
Lalu aku menimbang dirinya
Dan Aku
meyakinkan diri bahwa pantai ini aman,
bahwa tak ada bebatuan tajam
yang menunggu langkahku.
Begitulah aku menenangkan diri:
menyebut keyakinan
sebagai keberanian.
Suatu hari, apabila ia membuka dirinya,
dan aku melihat hal-hal yang lama tersembunyi:
karang-karang yang membentuknya,
arus-arus yang tak selalu ramah,
dan sisi-sisi yang sulit dijangkau.
Aku tak akan menjauh.
Justru berharap gelombang berikutnya lebih dalam,
meski itu berarti
aku harus belajar berdiri
di atas pasir yang tak lagi pasti.
Aku berharap rasa ini menetap.
Maka aku tetap berada di sini,
di titik pertemuan laut dan pantai yang terus bergerak,
mencintai dengan kesadaran penuh:
menerima gelombangnya,
menyadari jarak antar pasang surut,
Tak lagi mencoba menahannya.
Dan kita tetap menamainya rasa,
meski sering kali
yang kita tunggu
bukan dirinya sepenuhnya.
> Pantai tahu,
arus akan datang
bahkan saat laut tampak diam.
_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar