Belajar mundur darimu

Aku menjumpaimu
di sela makna,
saat bahasa memilih diam
agar tidak mengkhianati dirinya sendiri.

Kau tahu caranya membuat ungkapan
terdengar seperti rumah.
Tenang.
Hangat.
Dan aku—tanpa sadar—
ingin duduk lebih lama di sana.

Aku singgah untuk menguji
sejauh apa hati
dapat merasa aman,
Sebab aku melihat
kau meneduhkan banyak bahu,
menyapa banyak luka
dengan suara yang sama.

Dan aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah aku istimewa,
atau hanya sedang berada di giliran yang tepat?

Perasaanku berjalan
menyusuri harap yang masih gamang.
Kadang ia berlari,
kadang berhenti di persimpangan
yang tidak kau beri petunjuk.

Masalahnya,
aku bukan satu-satunya yang kau hangatkan.
Kau membuat banyak orang merasa aman,
merasa didengar,
merasa dipahami.

Dan aku di sana,
merasa istimewa
sendirian.

Aku mulai lelah
menjadi kemungkinan
yang selalu menunggu kepastian
dari seseorang
yang nyaman membuat orang lain menunggu.

Maka aku belajar mundur,
Demi menjaga diriku tetap utuh.

Aku menyimpan perasaan
seperti bekal perjalanan—
cukup untuk menguatkan langkah sendiri.

Jika suatu hari kau memanggilku
sebagai satu-satunya,
dengan suara yang berbeda,
dengan niat yang benar-benar tinggal,
mungkin aku akan berpikir ulang.

Tapi hari ini,
aku memilih berjalan.
Meninggalkanmu.

Sebab aku juga pantas
dicintai tanpa harus bersaing
dengan kebanyakan orang.

Aku meyakini
Jika perasaan kita sama,
Kau tidak akan pernah membuat hatiku ragu
tentang ke mana ia harus pulang.


________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)