Berhenti mengejar dan mulai bersyukur
Ada masa ketika aku terlalu sibuk mengejar apa yang tampak sempurna di mata manusia lain.
Melupakan fakta bahwa kesempurnaan tak pernah memiliki tepi.
Ia seperti horison: semakin kudekati, semakin menjauh.
Dalam kelelahan itu, aku mulai mengerti bahwa hidup hanya memintaku hadir dengan hati yang jujur.
Perlahan aku belajar merawat syukur
Pada apa-apa yang telah kumiliki .
Pada proses yang membentukku,
dan pada keterbatasan yang justru menuntunku mengenali rendah hati.
Seperti fajar yang mengusap kaca jendela
Ada ketenangan yang menyelinap
ketika aku berhenti menimbang diriku di atas pandangan yang silih berganti.
Maka aku memilih berjalan dengan langkah sederhana yang penuh kesungguhan.
Ku upayakan yang terbaik.
Dan selebihnya memang harus kulepas.
Biarlah orang menafsir sesukanya.
Setiap mata menyimpan bias,
setiap hati membawa riwayatnya sendiri.
Yang penting, aku terus belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih lapang, lebih ikhlas.
Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan hidup bukanlah tepuk tangan,
melainkan keteduhan yang lahir dari menerima diri apa adanya.
Apa yang dapat dipelajari dari perjalanan ini adalah fakta;
Bahwa hidup menjadi lebih ringan ketika kita memilih menjadi baik, bukan sempurna;
memilih bersyukur, bukan mengeluh;
memilih melangkah dengan hati, bukan dengan bayang-bayang ekspektasi orang lain.
____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 1 Desember 2025
Usai subuh.
Komentar
Posting Komentar