Bulan di seberang pagar
Bulan adalah tetangga yang tinggal di seberang pagar.
Dari langit
dia melihat aku setiap malam, ketika aku duduk di lantai belakang rumah,
menahan napas hingga rasa sakitnya mengeras di antara tulang rusuk.
Dia tidak mengeluarkan suara, hanya menyinari pagar bambu yang kususun sendiri,
menjadikan setiap bilahnya jelas terlihat seperti garis-garis yang memisahkan aku dari semua yang ada di luar.
Aku belajar dari ibuku: apa yang menyakitkan harus disimpan di dalam,
agar tidak membuatnya harus bangun dari tempat tidurnya tengah malam.
Jadi aku susun batu demi batu di ruang dalam diriku—
setiap ejekan membuat batu tambahan terasa lebih berat di pundak,
setiap rasa malu membuat celah di antara batu semakin sempit,
setiap ketidakadilan membuat batu tersebut menancap lebih dalam pada relung hati.
Bulan mengamati dari posisinya yang tetap—dia tahu kapan aku menangis dengan mata terbuka,
kapan aku tersenyum padanya padahal tubuhku sedang menggigil,
kapan aku berdiri diam di bawahnya hanya untuk merasa tidak sendirian.
Kadang dia menjadi penuh, menerangi setiap sudut halaman belakang,
dan aku merasa seperti semua yang kubungkus akan terlihat dengan jelas,
jadi aku segera berdiri dan masuk ke dalam rumah,
menutup pintu dengan pelan agar tidak mengeluarkan suara,
menempatkan wajahku pada kaca jendela yang dingin.
Bulan muncul dan hilang dengan jadwal yang pasti—seperti ritme napasku yang terkendali.
Tahun demi tahun, batu-batu itu menjadi bagian dari bentukku—
aku menganggapnya sebagai perlindungan, padahal hanya kebiasaan menahan beban yang tak diperlihatkan.
Kulakukan segala hal sendiri karena takut jika meminta bantuan,
semua yang kubendung akan tumpah dan membuat orang lain harus membersihkannya.
Rasa tidak percaya diri mengikuti setiap langkahku,
menutupi langit di atas kepala bahkan ketika bulan bersinar terang.
Suatu malam, bulan mendekat hingga cahayanya menyentuh wajahku—
dia berbisik dengan angin yang menyapu pagar bambu:
"Kamu tidak perlu menyembunyikan apa yang sudah kulihat setiap hari."
Baruku merasakan dengan jelas:
Lelah itu adalah rasa tubuh yang tak pernah bisa rileks sepenuhnya,
Sedih itu adalah ketidakmampuan untuk bernapas dalam-dalam tanpa merasa sesak,
Marah itu adalah panas yang membakar dari dalam tanpa bisa keluar.
Semua ini adalah bagian dariku yang sudah ada sejak lama,
tersimpan di balik setiap batu yang kususun, di balik setiap pandangan yang kubelokkan.
Bulan menjadi cermin yang kutatap tanpa berpura-pura.
Di cahayanya yang tidak menyakitkan, aku melihat diriku seperti yang sebenarnya—
tidak kuat seperti yang kukatakan, hanya terbiasa menahan beban,
tidak bahagia seperti yang kukirimkan, hanya terbiasa menyembunyikan rasa sakit.
"Aku mengakui bahwa semua ini ada dan benar-benar menyakitkan,"
Ucapku pada tetangga yang sudah lama mengenalku.
Dia menjawab dengan menyebarkan cahayanya lebih luas lagi—
membuat setiap batu yang kususun terasa tidak seberat dulu.
Kebutuhanku untuk merasa aman, untuk dihargai, untuk tidak sendirian—
adalah bagian dari diriku yang tidak bisa lagi ditahan,
benar dan tidak perlu dipersalahkan.
Aku mulai melepaskan batu-batu itu satu per satu dengan hati-hati.
Bulan tetap ada di seberang pagar langit— sebagai saksi yang tahu,
bahwa setiap langkah untuk merawat diri adalah perjalanan yang berat,
bahwa setiap kali aku mengizinkan diri untuk merasa apa yang sebenarnya kudapatkan,
adalah langkah menuju tempat di mana aku tidak perlu lagi menyembunyikan diri.
Bulan bersinar di sana.
Rasa sakitku ada di sini.
Keduanya benar.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar