Cinta di ruang tertutup
Andaikan cinta
menitipkan satu peluang
aku ingin tahu
sejauh apa diriku sanggup
meluruh menjadi ikhtiar.
Berapa lapis nyali
harus kutanggalkan
agar namaku
diizinkan singgah
di lengkung batinmu.
Namun bila kau menjelma
kaca bening tanpa engsel,
tak memberi celah
bahkan pada sisa kemungkinan,
aku pun jatuh dalam akuarium duka
tempat kesedihan
dipelihara hingga penuh.
Airnya merambat
dari penglihatan yang terbelah,
menggenangi relung,
menelan isyarat-isyarat
yang tak sempat berpermukaan.
Aku bertahan
dengan napas pinjaman,
menyimpan pekik
dalam gelembung rindu
yang pecah sebelum mencapai makna.
Di sana,
air mata telah menjadi arus
yang kupilih
untuk menggantikan langkah.
Alih-alih mengetukmu,
aku membiarkan diri
larut seluruhnya,
menjadi hening
karena harap telah letih.
Aku menangis
seluas wadah kesedihan itu,
sebanyak-banyaknya,
hingga duka berubah arus
yang mengayun jiwaku pelan.
Dan di dasar kaca
aku paham:
tak setiap cinta
dititipkan untuk menemukan jalan keluar—
sebagian hanya dihadirkan
agar bisa luruh
tanpa pernah dimiliki.
______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 13 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar