Dermaga dan sang pelayang
Sang Pelayang
Layar menari bersama angin luput,
datang dari bintang yang kehilangan arah,
melukis jalur bulan luntur di ufuk.
Matamu kompas bagi arah yang belum tiba,
tanganmu dayung—
nyanyian legenda laut.
Tak pernah terjamah.
Kau sapa ombak yang jauh,
Hingga bisik pantai menyusupi relungmu,
Lalu matahari menyorot wajahku:
sebuah dermaga
berdiri teguh di tepian.
Akulah dermaga.
Batuan yang bertumbuh
saat ombak pertama memeluk pantai.
Kau bicara tentang badai,
takut lambung kapalmu digigit gelap,
layar lupa terbang
dan bergelantungan di langit ragu.
Kau kira pelayaran
Hadir tanpa tempat kembali.
Ketahuilah —
pelayaran sejati selalu punya dermaga,
meski kapal harus menjauh
untuk mengenali lautnya.
Kau membungkus diri dengan kabut bingung.
Embun dan keraguan berputar,
hingga angin pulang
memanggil dirimu.
Bersama pelukan fajar
kapalmu akhirnya bersua,
menyandar padaku.
Dan bersama malam
kuceritakan kembali tentang bulan—
saat layarmu berhenti sejenak.
Kau peluk aku di tepian,
kuhangatkan tubuhmu
dari lelah perjalanan.
Hanya lautan yang tahu rahasia kita.
Satu dunia beraroma asin dan sunyi.
Aku dermaga.
Menunggu sang pelayang
pulang.
__________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar