Hamparan menuju pulang

Kala penantian menjadi garis-garis samar
pada hamparan tanah yang menahan musim,
dan malam menebalkan rindu
seperti kabut yang enggan lepas dari punggung bukit,
semoga embun tetap singgah,
membawa isyarat bahwa harapan belum rapuh.

Di antara lalu-lalang pengkhianatan
yang tumbuh menjadi duri
pada relung tenang,
aku berharap hidup masih menyimpan
sebidang teduh—
Dimana ketabahan bisa kembali berakar,
meski angin kerap datang
membawa luka tanpa diundang.

Meskipun kebencian menjulang seperti ilalang liar,
mengaburkan jalan menuju damai,
aku percaya ada desir yang menjaga
agar gelap tak menjadi penguasa,
mengusap lembut helai-helai rasa
yang hampir layu oleh lelah panjang.

Dan di antara cobaan
yang turun mengikis kesabaran sedikit demi sedikit,
aku menunggu saat ketika langit
mengedarkan kembali suara hati,
membiarkan titik-titik sinar
meresap perlahan
ke ruang batin yang mulai suram.

Semoga suatu hari,
bahagia tumbuh tanpa keramaian,
sebagaimana benih kecil
yang menembus tanah
dengan keberanian.

Semoga hidup
yang serupa batu dingin
di tengah hampar kehilangan
luluh menjadi tanah lunak—
tempat ketenangan datang kembali.

Dan apabila malam kembali runtuh,
biarlah rerumputan dan ilalang
menjadi penutur rahasianya sendiri:
bahwa yang patah dapat menjalar lagi,
bahwa yang hilang akan digantikan musim baru,
dan segala yang letih
akan menemukan pulangnya
di pangkuan bumi
yang tak pernah benar-benar pergi.


_______
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 7 Desember 2025
Menjelang subuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)