Hening catatan langit
Ada saat ketika hati ingin menyerah,
namun tetap menyimpan seutas hangat
yang tak hilang meski disentuh sepi.
Dalam hening semacam itu,
kita duduk bersama angan
Membiarkan malam merawat gelisah.
Angin datang perlahan,
membawa isyarat.
mungkin dari doa yang terlupa,
Atau dari rahmat
yang selalu mendahului permintaan.
Ada sinar lembut yang menyentuh nurani,
serupa kasih yang turun diam-diam:
Menjadi pelipur dan
menenangkan.
Dulu, kita menyangka pasrah adalah kekuatan besar;
padahal ia belai lembut
yang tumbuh dari relung terdalam.
Mencari jalannya sendiri
tanpa memaksa jiwa menjadi lebih tabah
dari kemampuan.
Ia datang seperti pelukan gaib
yang membuat kita berhenti
melawan diri sendiri.
Setiap air mata
adalah harapan
untuk jiwa yang tak sanggup bertutur dalam doa.
Dan langit tetap mencatatnya.
Dan betapa indahnya mengetahui:
Resah paling kecil
yang kita sembunyikan di balik nurani pun
tetap diterima.
sebagai bagian dari perjalanan
kembali kepada-Nya.
“Ya Allah,
jika hanya tersisa setitik cahaya-Mu,
di dalam setitik itulah
aku ingin tinggal.”
Sebab cahaya yang sedikit
sering lebih jujur
daripada terang yang riuh;
dan cinta-Mu—
adalah rumah
yang tak pernah kami tinggalkan
sejak kali pertama
Kau tiupkan ruh ke dalam diri.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 6 Desember 2025
Menjelang subuh.
Komentar
Posting Komentar