Hukum lautan

Aku adalah lautan yang pernah membuka setiap selatannya.

Pada setiap kapal yang mencari peruntungan tanpa pernah mengukur seberapa berat muatan yang kugiring pada isi kedalaman.
 
Kututurkan setiap ombak sebagai sapaan hangat,
kubasuh setiap dermaga dengan air yang kusimpan dari awan surgawi.

Keyakinan pernah berkata kepadaku, bahwa kebaikan adalah bahasa yang tak perlu terjemahkan.
 
Namun matahari menyinari pasir yang kusembunyikan,
dan aku melihat jejak kaki menginjak-injak hamparannya.

Mereka yang melautiku dengan keserahakan,
Lalu marah ketika aku berombak dan menenggelamkan kapalnya.

Itulah kenapa, aku mulai membatasi diri dari pelaut, pelayar, pengendara kapal atau siapapun itu.

Kubangun tembok dari batu-batu
Untuk menetapkan batas yang jelas.

Siapa yang berkata mampu membelah lautan?
Kupastikan mereka tenggelam sebelum sempat mengarungi samudra ku.

Aku masih lautan;
membuka selatan untuk kapal yang bersedia berdamai dengan ombakku,
Memahami setiap riak dan desir air.
Tidak lagi kepada mereka, yang berpikir mampu menerobos dan membelahku.

Kumulai mencintai diri.
Jangankan menyelam, bahkan berenang— Tak akan kubiarkan siapapun melakukannya tanpa kehendakku.

Semua yang telah lewat, kuserahkan kepada Sang Pencipta—
yang melihat setiap desir.

Tuhan yang mengatur setiap arus
sekalipun kukukuhkan samudra dengan batas.

Tuhan tau,
Lautan tak pernah pilih kasih.
 

______
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 29 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)