Integritas dari dasar laut

Samudra terdiam, merengkuh gelombang,
menyimpan asin yang enggan dibawa arus.
Ia memilih diam pada pasang,
dan membiarkan surut berlalu dengan sendirinya.

Arus setia mengalir.
Ada yang menatap pada dalaman,
ada yang tersesat di permukaan—
air tetap air, meskupun tafsir berbeda.

Fitnah hanyalah buih: putih, ringan, rapuh.
Sekilas tampak seperti badai,
lalu pecah dan hilang dari ingatan.

Tetap mengalir lebih penting.
Sebagaimana karang teguh membisu,
menerima ciuman gelombang, lalu
menyimpan bekasnya pada relung terdalam.

Yang datang disetiap fajar
lebih berarti daripada riuh yang sebentar.
Gerak air lebih tulus dari tutur,
Gelombang laut lebih pasti dari gemuruh.

Badai datang—
gelombang menjulang, gemuruh membara,
amarah mengeruhkan lautan.
Namun ia tak terguncang:
menyembunyikan getir di palung,
menanti pagi meredakan gelap.

Fajar membasuh malam,
mengembalikan biru pada permukaan.
Ketenangan kembali,
Kebisingan tenggelam bersama buih.

Nama baik layaknya kedalaman samudra.

Tak dapat dipahami dari permukaan;
Hanya penyelam yang berani turun ke dasar—
Yang paham bahwa integritas adalah keteguhan yang tak dapat ditenggelamkan.

____
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 9 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)