Jarak diantara kami

Langit menahan arah sejak pagi.
Terangnya bergerak tertib,
menyusupi kelabu.

Udara menyesuaikan lapisannya,
menjaga bentang tetap terbuka.

Di bawah keadaan itu,
aku berdiri sebagai satu kemungkinan,
dan dia sebagai kemungkinan lain.

Kami berada dalam jarak
yang cukup dekat untuk saling menyatu,
cukup jauh untuk bersatu.

Menjelang siang,
awan tidak bergeser jauh.
Regangan ditata,
tekanan mengendap.

Hujan berada dekat,
dan aku tahu perasaanku juga begitu:
siap,
namun belum diputuskan.

Aku menyukainya
seperti langit menyimpan airnya—
hadir sebagai muatan,
tidak dijatuhkan.

Siang bergulir.
Angin lewat membawa getar tipis.
Percakapan kami berjalan
terbawa angin.

Tak ada yang dilepas,
tak ada yang digenggam.
Aku mengerti kebebasannya
sebagaimana langit memahami batasnya.

Dia mengerti kehati-hatianku
seperti udara membaca tekanan.
Pengetahuan itu berdiri di antara kami,
menjaga jarak.

Sore mendekat.
Cahaya melemah,
Awan beringsut ke jarak lain.

Hujan tetap tertunda,
dan kami tetap berada
pada bentuk yang sama:
hadir,
namun tidak saling menahan.

Menjelang redup,
langit masih terbentang.
Lapisan terjaga,
jarak dipelihara.

Aku memilih tetap di tempatku.
Dia memilih tetap di arahnya.
Yang tinggal
adalah keadaan yang kami pahami bersama:
kedekatan sebagai cuaca,
perasaan sebagai tekanan,
dan jarak
sebagai cara paling tenang
untuk tidak saling melukai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)