Kisah anak pohon kayu manis
Aku datang ketika kebun mulai mengering—
matahari telah lama memanaskan tanah hingga mengelupas,
langit hanya menjawab dengan hembusan udara panas yang kering.
Hanya satu pohon kayu manis berdiri tegak,
batangnya melengkung seperti tangan yang meraih jauh,
kulitnya retak-retak seperti kertas tua yang dilipat berkali-kali,
setiap celahnya menyimpan jejak hari-hari yang lalu.
Aku adalah tunas di pangkal batangnya,
akar-akarku menancap di dalam tanah yang sama—
tempat dia menyimpan semua cerita badai dan kekeringan.
Telingaku adalah celah di kulitnya,
setiap hembusan angin membawa bisikan:
tentang badai yang menerjang,
tentang air yang harus dicari jauh-jauh,
tentang buah yang diberikan sebelum sempat matang.
Kisah-kisah itu meresap seperti air lewat akar—
tidak membuat basah permukaan,
tapi membuat tanah dalamku penuh dan berat.
Aku belajar menjadi daun yang tidak bergoyang,
membaca irama napasnya ketimbang mengikuti angin untukku sendiri.
Paradoks dalam hidupku:
aku yang paling muda menjadi tiang penyangga cabangnya yang melengkung,
sementara ruang untuk menghadap matahari terus menyempit.
Keinginanku tumbuh seperti akar tambahan dari batangku—
menggali lebih dalam, mencari sumber yang bisa kubagikan.
Aku ingin jadi tulang punggung baru,
agar dia bisa beristirahat dari beban yang sudah lama dipikul.
Tetapi setiap tetes yang kubawa
hanyalah titik lembap yang cepat terserap habis,
tak sampai menggenangi bahkan sekuntum daun yang mengering.
Buah-buahnya yang lebih dulu matang telah dipindahkan ke kebun lain,
dimana tanahnya subur dan jalan-jalan mereka rata dan beraspal halus.
Sementara aku menapaki tanah berbatuan dan liar,
setiap benturan membuat akarku semakin keras.
Kelelahan adalah abu di daunku,
kesendirian adalah bayangan panjang di atas diriku,
kekuatan adalah kulit kayu yang kuberikan pada diriku—
keras di luar, lunak seperti kayu muda di dalam.
Wajahku adalah daun yang selalu hijau,
segar di mata yang melihat dari kejauhan.
Tetapi di balik warnanya cerah,
alur-alur kecil terbentuk dari panas dan kekurangan—
setiap alur menyimpan keinginan yang kubendung,
rasa ingin diketahui yang kusembunyikan.
Aku ingin dia melihat:
aku bukan sekedar akar yang mencari air,
aku juga ingin jadi bunga di ujung rantingku—
memberikan aroma, bukan hanya buah yang terus diberikan.
Ingin dipahami sebagai makhluk dengan jalannya sendiri,
bukan ekstensi dari akar yang dalam.
Ingin diakui bukan karena kemampuanku menahan beban,
melainkan karena keindahan yang kubawa.
Ingin diterima sebagai batang yang telah tumbuh sendiri,
bukan hanya tempat untuk menyimpan beban yang tak bisa ditanggung lagi.
Hidup adalah perahu yang diarahkan arus bawah tanah—
aku berusaha ke lautan luas,
tapi tali akarku masih terikat pada pangkalnya.
Setiap langkah jauh membawa tarikan pulang,
ingatan pada tempat aku berasal.
Aku telah jadi tanah yang menyimpan air untuk orang lain,
tapi jarang sempat jadi tempat hujan membuatku segar.
Dan dalam setiap getaran yang kurasakan dari akarnya,
ada rasa pilu yang indah seperti aroma kayu manis yang keluar ketika terluka—
bahwa cinta sejati adalah menjadi tempat yang kokoh bagi yang kita cintai.
Bahkan ketika itu berarti melengkungkan diri,
dan menyembunyikan bagian dari keindahan kita sendiri.
_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar