Luka
Dunia menabur benih bagi penyesalan,
namun setiap luruh bahasa
,
tak menjangkau inti diriku.
Ada malam
ketika hatiku menjadi serambi kening
bagi kecupan-kecupan yang enggan pergi,
dan aku
seperti penjaga diguyur letih
ingin merengkuh kembali serpih-serpih
yang pernah kutitipkan pada hidup.
Kusadari,
terdapat luka yang ditakdirkan sebagai suluh
yang tak rela padam—
menuntunku pada jalan yang tak mampu kulihat
dengan mata sendiri.
Kupersembahkan hati menjadi cekungan teduh,
tempat keliru bertumbuh
tanpa menenggelamkan tenang.
Tak kubiarkan benak
tersesat ke dalam belantara
hingga lupa arah pulang.
Wahai luka,
engkau hadir
seperti peziarah renta
Pembawa kendi sarat makna.
Setiap langkahmu memanggilku merunduk lebih rendah
agar congkak luruh
di bawah rimbun pengertian.
Maka biarlah yang terbelah
tetap menjadi bilik rahasia dalam batin—
tempat menyendiri yang telah kuakrabi.
Sebab aku tahu,
di balik setiap denyar perih yang membelenggu
ada hikmah yang menunggu.
Dan aku,
siap menyambutnya.
____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 08 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar