Malam Tenang Teman

Malam turun perlahan,
membawa keteduhan yang menyerupai selendang tipis.

Mengusap bahu dunia.
Sentuhannya merambat masuk
ke sudut-sudut kepalaku yang letih,
seakan mengajak seluruh bebanku
menemukan tempat untuk beristirahat.

Di bawah langit yang nyaris beku dalam keheningan,
aku menitipkan kisahku kepada gelap yang bening.

Aku tidak ingin menghapus apa pun—
Hanya berharap hati seperti jendela yang dibuka setelah lama tertutup,
Lega...

Resah-resah yang kupikul pun mereda,
meluruh lembut
seperti daun tua yang jatuh
dengan bisik yang nyaris tak teraba.

Ketenangan menyusup perlahan,
mengaliri ruang batinku
dengan cahaya yang lembut.

Saat sentuhan itu tiba,
irama di dalam diriku mulai tersusun ulang,
menghadirkan kelegaan
yang tumbuh seperti cahaya pagi.
Merayap dari balik kelambu.

Pikiran-pikiran yang sebelumnya saling bertubrukan
mulai menepi.

Tubuhku
yang begitu sering kubebani
untuk tampak kokoh, akhirnya mengenali
bahwa diam pun bisa menjadi sandaran.

Sunyi melahirkan kekuatan baru:
jernih, bersih,
berpendar dari kedalaman yang lama terlupa.

Saat mataku perlahan terpejam,
mimpi datang setulus langkah
yang tidak pernah memaksa.

Dunia yang terbentuk di dalamnya
menjauhkan diriku dari keinginan untuk lari;
ia menghadirkan taman
tempat aku dapat mengurai diri
tanpa harus bersiap menghadapi apa pun.

Di sana, suara-suara yang menuntut begitu banyak
tak lagi mampu menjangka​u aku.

Dalam dunia itu, aku mampu menghadapi semua hari.
Dalam dunia itu, aku tetap ditemani.
Malam—dengan kebijaksanaannya yang tenang—
senantiasa menata ruang
agar hatiku memiliki tempat untuk pulang.


________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)