Mari Menarik diri

Ada fase ketika kehadiran dijalani sebagai kebiasaan yang dinilai cukup.
 
Datang dengan langkah yang terukur, bertahan dengan hati yang masih menanti.

Waktu diberikan, perhatian dijaga, ruang disediakan.
Semua bergerak tenang, seolah arah akan menemukan dirinya sendiri.
 
Namun perjalanan tidak selalu berujung sampai pada tujuan.
Kehadiran yang berulang dapat diterima tanpa pernah dipilih.
Yang datang menjadi latar yang perlahan hilang konturnya,
yang setia berubah menjadi asumsi yang tidak pernah diperiksa.
Di sana, arti mulai dikikis—perlahan, tidak lagi diperhatikan.
 
Diam yang terlalu panjang seperti jurang yang terus membesar,
Respon yang tertunda seperti kabar yang tak pernah datang.
Kedekatan hadir hanya saat perlu, lalu menjauh begitu saja.
Tidak ada penolakan yang jelas,
tidak ada keputusan yang diucapkan.
 
Kesetiaan terus berjalan seperti ritual harian.
Tenang. Konsisten.
Menyerupai doa yang diulang tanpa pengeras suara—
tetap tulus, namun terkadang luput dari makna aslinya.

Tidak setiap hati menyiapkan ruang untuk tinggal,
sebagian hanya menyediakan tempat singgah yang tidak pernah jadi rumah.
 
Di titik itu, kelelahan mulai ikut mengambil peran,
sebagai kesadaran yang datang dengan langkah pasti.
Bahwa memberi tanpa pertimbangan
adalah cara lain mengikis diri, sepotong demi sepotong.
 
"Maka, mari menarik langkah ke dalam." 

Menata ulang jarak dengan tangan yang lebih yakin.
Mengenang pelajaran lama;
Menjaga diri adalah bagian dari amanah yang tak boleh ditinggalkan.
 
Kepergian tidak memerlukan penjelasan.
Tak perlu berkecil hati.
Cukup jadikan seperti penutupan hari—
Sepi, utuh, tanpa rasa tidak enak yang dipertahankan.
Yang tertinggal hanyalah batas yang lebih jelas
dan langkah yang bergerak dengan kesadaran baru.
 
Mari, melanjutkan hidup dengan irama yang lebih jujur.
Tanpa berharap dipahami,
tanpa menunggu dipilih.
 
Lalu berjalan dengan langkah yang sudah menemukan pijakan sendiri—
membawa seluruh cerita yang pernah tersimpan dalam hati,
dan membiarkan segalanya bertemu di tempat yang siap menerima,
tempat yang merenungi setiap jejak. 

Menghargai diri sendiri.

______
 
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)