Meniti gurun dalam diri
Di atas pasir yang terus bergeser oleh desah angin panas,
aku mendengar keluh yang disimpan siang panjang.
Terik merayap dari ufuk,
keheningan kering menjalar,
mengguncang ruang terdalam.
Bayang-bayang terkedil di punggung bukit pasir,
menjauh dari tatapan matahari.
Waktu melintas secepat hembus samum,
turun perlahan ke lembah dalam diri
membaca sunyi dari panas yang mengendap.
Kasih tumbuh dari gelombang panas
yang naik ke ujung penyeberangan ini.
Dari hamparan pasir,
isyarat mengalir pada yang bertahan.
Tarian udara goyah oleh terik.
Setiap penantian meninggalkan guratan
pada desir yang tak pernah menetap—
guratan yang menjadi penunggu angin dingin.
Gurun berbicara dengan bahasanya sendiri:
alur terburai, garis sunyi, hamparan panas
yang mengantar keberanian meniti jalan
di antara kerasnya batu dan diamnya angin.
Panas, dahaga, dan gerak pasir—
bersekutu menjadi satu tubuh
yang menuntut tetap maju.
Teruslah melangkah di atas pasir.
Sebab di balik desah panas yang mereda,
hidup sedang menunjukkan
tempat tenang yang menunggu ditemukan.
____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 11 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar