Nasi goreng aroma pulang

Mengapa kita begitu mudah terjerembap dalam kesepian?
Pada jam yang disebut dini hari,
saat tubuh ingin rebah.

Tangan tak sanggup melepaskan ponsel.

Mungkin karena kita terlalu sibuk
menyelam dalam perasaan orang-orang,
menjadikan kesepian sebagai bahasa bersama.

Aku mendengarkan cerita mereka,
namun apakah aku sungguh hadir,
atau hanya ikut tenggelam?

Jika tidak benar-benar mendengar,
mungkin tidur saja bukan pilihan yang buruk.

Akhir-akhir ini,
aku sering memikirkan nasi goreng Jawa.
Warung kecil yang dulu sering kudatangi
kini tak lagi menyala lampunya.

Nasi goreng yang sederhana,
dengan aroma bawang dan kecap
yang entah bagaimana
menyentuh bagian hatiku yang paling sepi.

Sayangnya,
aku belum menemukan tempat
yang bisa mengenyangkan perasaan seperti itu lagi.

Jika kamu tahu,
tolong beri tahu aku.
Tentang nasi goreng Jawa yang benar-benar enak,
dan tentang cara memejamkan mata
tanpa harus menggulir layar terlalu lama.

Aku merasa kesepian.
Karena rindu pada nasi goreng
yang dulu terasa seperti pulang.

Mungkin ini bukan sekadar lapar.
Mungkin beginilah rupa cinta—
datang sebagai ingatan hangat
di waktu yang terlalu sunyi.


_____
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 15 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)