Rindu menjahit arah

Layang warna senja dan lengkung mega tipis
turun perlahan ke hari ketika cinta
masih bersandar tenang di antara gelora kita.
Kala itu, dunia bernapas lembut,
gumam sungai mencari batu pertamanya.

Kita merapatkan tubuh dan tawa;
langit membuka ruangnya,
kilau jatuh satu-satu,
restu turun diam-diam
menghangatkan sayup yang belum kita tenun.

Pada halaman waktu yang kusapu perlahan,
silau wajahmu tampak muram—
serupa lentik cahaya yang enggan meninggalkan malam.
Aku menatapnya lama;
rindu mulai menjahit arah
untuk pulang ke pangkuanmu.

Tatapanmu yang kutarik dari ingatan
datang lagi seperti desir pemalu,
mengetuk rasaku dengan sentuhan halus.
Suara lama berjalan perlahan,
sabar menjulur menjadi nyanyian,
cinta berkeliling di ruangku,
membiarkan sepi bersandar.

Kita pernah disentuh angin lunak
yang menautkan langkah.
Di tempat itu, senyummu membangun halaman kecil;
redam yang kau tinggal tumbuh menjadi peluk panjang,
menghangatkan malam.

Kenangan itu—
sentuhanmu yang menyingkirkan riuh,
aroma pagi menetap di napasmu—
masih bergetar di pendengaranku.
Dawai sunyi menyapu namamu
dengan kelembutan yang tinggal.

Masihkah kau mengingatku?
Aku kini hanya selarik gaura,
mengalir pelan dari masa
ketika kita percaya
waktu bersandar pada cinta.

Kita pernah menyimpan bertahun-tahun
dalam satu momen tenang,
membuat dunia menunduk sejenak
dan jarak kehilangan keberaniannya.

Jika engkau berkenan,
marilah kita membuka kembali
apa yang pernah kita titipkan
pada bisik yang menunggu pulang,
pada cium yang menggantung di jejulur angin,
pada kasih yang terus berdenyut.

Meski jarak berkali-kali mencoba
mengurai kehadirannya,
namun jejakmu tetap menyala
di sisi yang tak pernah kupadamkan.

____
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 11 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)