Romantismeku hilang arah
Suatu saat aku menyadari sesuatu.
Bahwa dalam diriku, romantisme kehilangan arah.
Dulu, aku bisa menatap layar dan percaya pada cinta hanya dengan menonton
Ada Apa Dengan Cinta?
cara Rangga diam-diam mencintai, atau Dilan 1990,
dengan kalimat sederhana yang entah kenapa bisa terasa begitu serius.
Aku pernah berpikir, bagaimana jika suatu hari aku mencintai seseorang dengan cara sesederhana itu— tanpa perlu banyak bukti, tanpa perlu terlalu keras meyakinkan dunia.
Namun mungkin, karena aku tak pernah benar-benar menemukan seseorang yang bisa diajak berbagi perasaan-perasaan seperti itu, maka pelan-pelan hasrat dan emosi itu layu sendiri.
Seperti film yang selesai, lampu bioskop menyala, dan kita pulang sendirian.
Aku masih menginginkan romantisme. Meski kadang terasa canggung mengakuinya di usia yang terus berjalan.
Rasanya seperti tersesat di jalan menuju cinta. Seperti ketika Dilan yang dulu terasa menggemaskan, di kemudian hari tak lagi seindah ingatan Milea.
Namun tetap saja, seperti Milea yang terus mengingat, ada bagian dari cinta yang tak pernah benar-benar bisa dibenci.
Mungkin ini terdengar bertentangan. Mungkin juga aku hanya keras kepala.
Tapi beginilah adanya.
Sebuah renungan tentang cinta. Tentang cinta yang masih kuharapkan. Tentang cinta yang belum kutemukan jalannya, namun belum juga ingin kulepaskan.
_____
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar