Sadari diri, sayangi sendiri

Ada masa dalam hidup,
ketika kita menyadari
bahwa telah terlalu lama berjalan
tanpa benar-benar hadir
untuk diri sendiri.

Kita memenuhi kewajiban,
menjawab panggilan,
menyelesaikan tuntutan,
dan meyakini bahwa semua itu
adalah bentuk tanggung jawab.

Namun, perlahan, tanpa terasa,
kita kehilangan bagian-bagian kecil dari diri—
waktu yang seharusnya menjadi jeda,
perasaan yang seharusnya dirawat,
batas yang seharusnya kita jaga.

Apa yang kita sebut ketegaran
sering kali hanyalah penundaan
atas kebutuhan diri sendiri.
Apa yang kita anggap keikhlasan
kadang berubah menjadi pengabaian
yang dibungkus rapi agar tampak mulia.

Kita tersenyum kepada dunia,
namun lupa bertanya:
apakah diri kita masih baik-baik saja?
Kita mendengarkan semua orang,
kecuali suara hati
yang terus kita diamkan.

Pada titik tertentu,
kita perlu mengakui kenyataan:
bahwa tidak ada yang lebih bertanggung jawab
atas kesejahteraan kita
selain diri sendiri.

Bahkan cinta dari orang lain
tak mampu menggantikan kewajiban
untuk menjaga diri.
Hidup menawarkan banyak arah,
namun kita tetap menjadi
rumah yang tak dapat ditinggalkan.

Menyayangi diri sendiri
bukan kelemahan.
Itu adalah disiplin
yang kerap kita abaikan—
sebuah keputusan untuk kembali pulang
kepada diri yang telah lama menunggu.

Kita tidak perlu membuatnya dramatis;
cukup dengan keberanian
untuk berhenti mengorbankan diri
demi hal-hal yang tak lagi memberi makna.

Pada akhirnya,
merawat diri adalah tindakan paling jujur
yang dapat kita lakukan:
menjaga diri tetap utuh,
agar perjalanan panjang ini
dapat diteruskan dengan hati
yang tidak lagi haus perhatian dari luar.

______
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 07 Desember 2025
Sepertiga Malam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)