Semesta mengajariku melepaskan
Ketika senja merunduk memberi ruang bagi malam, aku belajar hal yang sama:
mengalah demi seseorang yang kini menempati ruang yang dulu kau izinkan menjadi milikku.
Perlahan aku melepaskanmu, sebagaimana cahaya terakhir yang mundur dari cakrawala—
menyadari bahwa keindahan tak selalu harus dipertahankan ketika pandangannya tak lagi sama.
Aku berdiri di ambang hati,
membiarkan pintunya terbuka agar angin mengantar kita menuju arah yang tak perlu dikenang lagi.
Mungkin beginilah cara semesta mengingatkan:
tak semua yang kita genggam ingin tinggal di tempat yang sama.
Kau memilih jalan lain, dan aku tak ingin menjadi musim yang memaksamu menetap,
tak ingin menjadi langit yang menagih matamu untuk tetap menengadah.
Jika kau ingin pergi, biarkan aku menjadi senja yang meredup dengan anggun—
seberkas cahaya terakhir yang pernah mencintaimu tanpa syarat.
Aku melepaskanmu meski perihnya masih terasa, sebab hati pun berhak menemukan saat untuk berdamai.
Setiap jiwa memiliki arah yang ingin dituju,
dan langkahmu tak lagi bergerak mendekati tempat aku menunggu.
Maka aku berhenti mengejarmu.
Membiarkan kisahmu tumbuh tanpa aku di dalamnya.
Lalu aku mengerti bahwa merelakan adalah cara paling lembut untuk menyayangi diri sendiri—
melangkah perlahan keluar dari bayang-bayang mempertahankan.
Mengikhlaskanmu sebagai bagian dari tumbuhnya kedewasaan hati:
memberinya ruang bernapas, bertumbuh, dan kembali utuh demi ketenangan yang pantas di miliki.
______
Karya : Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar