Semua hari adalah Ibu
Tak pernah ada kalender yang kami lingkari,
tak ada lilin yang diajarkan menyala atas nama satu hari.
Rumah kami tak mengenal perayaan.
Kami, hanya paham pagi yang setia datang,
dan malam yang pulang bersama doa.
Aku tumbuh di rumah
yang tak menamai cinta,
sebab cinta terlalu sibuk bekerja.
Ia bangun lebih awal dari matahari,
menyapu lantai sambil bershalawat,
memasak waktu dengan sabar
agar kami kenyang oleh cukup.
Valentine, hari ibu, bahkan hari ulang tahun—
tak pernah mengetuk pintu kami.
Bukan karena ibu tak mampu memberi hadiah.
Sebab
Kasih;
Tak pernah menunggu tanggal berapa.
Di rumah ini,
cinta beralih bentuk menjadi hembus—
terasa tanpa disadari,
hadir tanpa pernah diumumkan.
Kami tertawa oleh perkara kecil,
dan tawa itu diam-diam
tumbuh menjadi perayaan:
tanpa undangan,
tak perlu disebut-sebut,
tetap hangat dan meriah.
Marah, lalu diam,
Kemudian saling memeluk;
Pelukan itu
lebih semarak dari perayaan apapun.
Ibu mengajari kami:
hari kasih sayang
adalah saat amarah luluh,
saat ego bersujud,
saat memaafkan lebih cepat
daripada menghakimi.
Waktu berjalan seperti air
yang tak bisa kembali ke hulunya.
Dan ibu tahu,
setiap detik yang dilewati
adalah moment yang tak bisa ditebus.
Maka ia hidup sepenuhnya—
seakan setiap hari
adalah hari terakhir untuk mencintai.
Kini aku paham,
rumah kami tak pernah sepi dari perayaan.
Kami, hanya tak ribut merayakannya.
Rumah kami penuh;
oleh tawa yang tak disimpan,
oleh cinta yang tak dipamerkan.
oleh segala bentuk rasa; sejak diam menjadi isak kemudian pilu mengurai air mata, hingga kembali berpelukan dan menyadari kesalahan.
Kami
Merayakan kebersamaan setiap hari.
Ya Allah,
Telah Engkau jemput ibuku lebih dulu.
Alhamdulillah
Engkau lepaskan ibuku
dari beban dunia.
Pertemukan ia
dengan mereka yang dirindukan.
Aku bersaksi, ya Allah—
perempuan itu
telah menghabiskan dirinya
agar kami tetap utuh.
Aku mengerti:
bahwa mencintai
tak selalu tentang memegang erat segala yang ada—
Mencintai adalah merelakan dengan tabah, sebagaimana bunga yang tetap mekar meskipun angin bertiup kencang.
Bahwa kehilangan
bukan akhir dari kebersamaan
ia adalah cara Engkau mengajarkan keabadian:
seperti lilin perayaan yang nyalanya naik perlahan ke langit,
menjadi bintang,
Menyala di langit malam.
meskipun tubuhnya telah hilang.
Jika hari ini aku memilih bersikap lembut,
jika aku menahan marah
dan mendahulukan doa,
jika aku mengingat-Mu
dalam sunyi yang paling jujur—
itulah ibu
yang masih bekerja di dalam diriku.
Ibu
engkau tidak pergi.
Engkau berpindah
dari pelukan dunia
ke rahmat yang lebih luas.
Ya Allah,
Lilin-lilin dunia tak pernah sempat Ibuku tiup,
jangan biarkan gelap menyentuh perjalanannya.
Nyalakan untuknya cahaya dari rahmat-Mu,
terang yang tak padam oleh waktu.
Jadikan surga sebagai perayaannya,
tempat lelahnya berakhir,
tempat doaku menjadi api kecil
yang terus menyala
demi tenangnya jiwa ibu
dalam ridha-Mu.
Amiin
_______
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar