Sketsa diri yang belum rampung

Aku belum pantas merindukan apa pun.
Di dalamku, alat-alat masih berserak,
paku belum menemukan kayu,
dan niat
berdiri miring,
dipaksa menanggung beban
di atas fondasi
yang belum dituang.

Ada yang kurang,
seperti baut hilang
di engsel batin—
menggantung,
membuat setiap gerak
tak pernah sungguh menutup
atau membuka.

Aku mengerti
mengapa pintu jarang memberi jalan.
Tanganku sering terlalu cepat,
menarik gagang
sebelum rangka di seberang
selesai menguatkan sepi.

Ke dalam, aku masih denah—
garis-garis ragu
belum sepakat menjadi ruang.
Ke luar, aku hanya kerangka,
menunggu sesuatu
yang layak disebut bentuk.

Beberapa cela muncul di titik tumpu,
membuat beban
berpindah ke arah yang salah.

Dan tak ada yang menunggu di dalamku
selain aku sendiri.

Maka aku membiarkan perancah tetap di tempatnya.
Ia menyangga kemiringan
agar tak jatuh sebelum waktunya.

Aku berdiri di bawah rangka ini,
menyimak kerja beban
hingga diam menunjukkan
bagian mana yang perlu diperkuat,
dan mana yang harus dilepas.


_____
Karya: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 16 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)