Sore beraroma kopi dan boba
Kafe itu lenggang.
Hanya terdengar suara sendok beradu dengan gelas, dan langkah karyawan yang lewat sesekali.
Americano panas di tanganku mengeluarkan uap tipis—
naik malu-malu, menampakkan diri perlahan.
Saat kusesap, pahitnya menyentuh ujung lidah,
membawa kembali ingatan tentang malam-malam yang tak pernah usai.
Pintu berbunyi. Aku menoleh.
Dunia seakan menahan napas sepersekian detik.
Seorang anak kecil masuk—
langkahnya ringan, seperti belum pernah memikul apa pun.
Ia membawa gelas berisi minuman manis,
bobanya memenuhi dasar gelas.
Sedotannya panjang, mencolok,
ujungnya tergigit setengah—
kebiasaan lugu yang belum pernah dipatahkan rasa takut.
Ia tidak banyak melihat sekeliling.
Berjalan pelan, lalu duduk di sampingku—
cukup dekat sehingga aku dapat mendengar
suara bobanya naik lewat sedotan:
“slrp”
Bunyi kecil yang entah mengapa membuat jantungku berdebar.
Ia menatap gelasku.
“Kopimu hitam sekali,” katanya pelan.
Tidak heran, tidak menilai.
Hanya menyampaikan apa yang dilihat.
Aku mengangguk.
Kata-kata terasa terlalu berat untuk keluar.
Ia menghisap bobanya lagi.
Matanya membulat sebentar, menikmati manis tiap seruputan—
sesuatu yang sudah lama tidak terjadi padaku.
Kakinya mengayun pelan,
menyentuh lantai sebentar lalu terangkat kembali,
seolah ia hidup sedikit lebih ringan
daripada dunia yang kujalani.
“Kamu kelihatan capek,” ucapnya.
Kalimat sederhana itu membuatku berdebar.
Aku menarik napas, lebih berat dari yang kukira.
Americano-ku mulai mendingin terlalu cepat.
Ia mencondongkan tubuh sedikit; bahunya menyentuh lenganku.
Sentuhan kecil, tapi cukup
untuk membuat sesuatu di dalam diriku bergeser—
pelan, Nyata.
“Kalau pahit, kamu boleh coba punyaku.”
Ia menggoyangkan gelasnya, menyodorkan padaku.
Bulatan boba bergeretak perlahan.
“Kalau lelahnya banyak, boleh bagi sedikit. Tidak apa-apa.”
Ia merobek tisu dari wadah di meja,
lalu tanpa komentar meletakkannya di bawah gelas yang airnya mulai menetes—
gestur kecil
yang entah mengapa membuat dadaku kian sempit.
Aku tidak menjawab.
Hanya menggeleng dan menyesap kopi.
Tenggorokanku terasa terlalu sempit untuk menelan.
Kami duduk diam—
aku dengan pahitku, ia dengan manisnya—
dua rasa yang hidup berdampingan
tanpa perlu saling menjelaskan.
Melihat ia menghisap boba
dengan pipi mengembung, mata melebar,
kakinya bergoyang tanpa tujuan,
aku seperti sedang menatap sesuatu
yang pernah membuatku utuh
sebelum dunia memaksaku
menjadi dewasa terlalu cepat.
Tidak ada yang harus dikatakan.
Tidak perlu.
Di antara dua gelas—yang satu pahit, yang satu manis—
sunyi sore itu bernapas sedikit lebih hangat.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar