Substratum
Mari membuka ruang terdalam—
seperti hutan yang jarang tersentuh:
tempat angin berdiam
di antara lumut basah
dan akar yang memanjang.
Dari kejauhan, sungai menyisir batu runcing,
membawa aroma tanah setelah hujan—
aroma yang membangunkan ingatan.
Keraguan datang perlahan;
serupa kabut pada daun pagi.
Dalam dialek rimba:
Kepak burung hantu nyaris tak terdengar,
serangga berdetak di serasah kering,
gerimis jatuh sebagai gumam yang memudar.
Tarik napas lebih dalam dan renungkan ritme rimba!
Angin bergeser tiba-tiba,
batang tua berderit lembut,
tanah gelap menyimpan kenangan.
Jejak malam binatang liar,
guratan cuaca pada kayu renta.
Ada patah—ada runtuh—
namun jamur tumbuh, lumut menutup luka,
dan hidup datang kembali.
Air gelap menyimpan rahasia akar
yang menembus masa lampau.
Di kedalaman, suara rimba muncul:
bisik batu basah,
percakapan jamur,
denyut tanah tua.
Katanya:
pengetahuan adalah mata hewan malam—
singkat, cukup;
tak perlu dipahami.
Maka biarkan angin menyisir ruang,
menopang langkah.
Biarkan dedaunan menjadi naungan
bagi tekad yang mengendap.
Hingga beban luruh
seperti daun gugur
dan kembali menjadi tanah—
Dan menyadari
Mimpi telah menjadi nyata.
_________
Karya: Sarah Bneiismael
Ditulis bersama: Tanpa Suara
.
.
.
Note:
Arti substratum dalam sastra = Makna paling dasar atau tersembunyi yang menjadi landasan karya sastra.
Maksudnya adalah: Kita perlu merenung untuk memahami naskah ini.
Komentar
Posting Komentar