Teduh

Di saat amarah bergejolak,
kita belajar
bahwa diam membawa hati pada keteduhan yang Allah jaga
bagi jiwa yang gelisah.

Manusia bisa melukai
dalam ketidaksadarannya.
Namun Allah menggenggam urat hidup kita,
membiarkan kelembutan-Nya
Menyerap ke ruang terdalam
yang jarang kita sentuh.

Ada kata-kata yang jatuh di jalan;
tidak perlu kita pungut kembali.
Cukuplah kita melangkah
dengan hati yang menaut kepada-Nya—
Dia yang mengenali setiap desir.

Ketika pertolongan-Nya turun,
hati akan mengerti arah,
meski dunia tampak seperti kabut kalut.
Ada penuntun halus
yang mendahului langkah,
dan kita hanya perlu mendengarnya
di sela napas
yang merindu keteduhan.

Ya Allah,
jadikan dunia bagi kami
sekadar persinggahan yang wajar.
Lapangkan jiwa
agar senantiasa tahu
bahwa akhirat-Mu adalah yang paling tenang—
tempat segala resah
menyandarkan gundahnya
kepada penjagaan-Mu.

Jika hati tersentuh perih oleh manusia,
Engkaulah yang memuluskannya kembali
seperti Engkau menenangkan gelombang
dengan satu isyarat.
Engkau meneguhkan batin itu
tanpa meminta cerita,
Ataupun menuntut ungkapan luka.

Engkau tahu letih kami, ya Rabb—
letih yang menyimpan banyak diam.
Lindungilah kami
dengan penjagaan yang  tak pernah lalai,
seperti malam
yang menutup bumi dengan kesabarannya.

Allahumma yassir wa la tu‘assir.
Mudahkanlah langkah kami menuju-Mu,
dan biarkan hati ini
mengikuti petunjuk
yang telah Engkau titipkan
sejak awal kehidupannya.

Aamiin 


__________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)