Tentang Orang yang Membenci Tanpa Mengenal


Ada hal yang selalu terasa aneh:
bagaimana mungkin seseorang membenci,
padahal kita tak pernah benar-benar saling kenal.

Kita tak pernah berjumpa,
tak pernah berbincang,
tak pernah berbagi cerita apa pun.
Namun entah dari mana,
prasangka itu tumbuh begitu saja,
seperti penilaian picik
yang sengaja memilih tidak tahu.

Aku mencoba memahami,
mungkin ia melihat sesuatu yang tak ia miliki.
Atau mungkin ia hanya menilai dari permukaan—
tanpa tahu bagaimana isi sebenarnya.

Bisa jadi bukan tentang diriku sama sekali.
Kadang, orang melampiaskan kecewa
pada siapa pun yang tampak baik-baik saja.
Bukan karena salah,
melainkan karena tak semua luka
berani diakui oleh pemiliknya.

Aku belajar satu hal:
tak semua kebencian perlu dibalas,
dan tak semua penilaian layak dijelaskan.
Menjadi diri sendiri
tidak seharusnya meminta izin siapa pun.

Namun jika seseorang memilih membenci
tanpa pernah mengenal,
tanpa pernah bertanya,
tanpa pernah mendengar—
maka itu bukan ketidaktahuan yang polos,
itu kebodohan yang disengaja.

Sebab mengenal membutuhkan usaha,
sedangkan membenci cukup dengan prasangka.
Dan memilih prasangka
adalah cara termudah
untuk tetap salah
tanpa harus belajar apa pun.

Maka aku membiarkan mereka tetap di sana,
di tempat di mana asumsi dianggap kebenaran,
dan kebencian terasa sibuk
padahal tak pernah benar-benar berarti.
Menanggapi hal semacam itu
bukan sesuatu yang pantas kulakukan.

Aku sedang melangkah ke arah yang lain,
dengan waktu yang terlalu berharga
untuk dihabiskan menjelaskan diri
kepada orang yang tak berniat memahami.
Apa yang mereka lakukan
hanyalah membuang waktu—
sementara aku memilih menggunakannya
untuk bertumbuh.

Aku memilih berjalan terus,
tanpa menyimpan amarah,
tanpa merasa perlu membenarkan apa pun.
Biarlah waktu yang menjelaskan
bahwa tidak semua yang berbeda
pantas dijadikan musuh.


_____
Karya; Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)