Teori kehadiran
Mencintaimu adalah pelajaran paling halus tentang ironi rasa.
Ia pahit sekaligus menghangat —
seperti seruput pertama kopi pekat
yang merambat perlahan ke dalam rongga dada,
meninggalkan bayang rasa
yang enggan hilang dari relungnya.
Ada keteduhan yang bertahan,
bahkan ketika malam membentang panjang
dengan lengang
yang hampir menyerupai kehampaan purba.
Namamu kerap mengapung dalam kesadaranku,
bagai liputan uap yang terbit
dari seduhan yang baru bangkit —
tak tersentuh jemari,
tetapi merayapi udara
dengan kehadiran yang mustahil dielakkan.
Dari situ aku belajar
bahwa sesuatu yang tak dapat kusentuh
pun dapat menjadi titik temu
bagi ketenangan.
Engkau adalah getar samar
dalam sebuah melodi yang tercerai,
nada yang nyaris sumbang
namun justru karena ketimpangannya
melahirkan kerinduan
yang tak bisa dinegosiasikan.
Di balik kelengangan,
denyutmu menjalar
seperti garis cahaya yang hampir tak terlihat —
tetapi tak pernah berhenti memancar.
Aku pun mengerti
bahwa sebagian makna
tercipta dari apa
yang tidak dikenal.
Ketidakhadiranmu menggoreskan jejak —
pahit halus
yang tertinggal di batas lidah
setelah tegukan terakhir.
Rasa itu kembali
dengan keteguhan
yang tak pernah memohon ruang,
seolah mengingatkan
bahwa kerinduan
bukan sekadar tunggu-menunggu,
melainkan proses
merawat ingatan
yang tak mau padam.
Kehilangan...
Pada titik tertentu,
menjadi ruang belajar
yang lebih jernih
ketimbang kehadiran
yang terlalu penuh.
Sentuhanmu —
bahkan yang hanya hidup sebagai ingatan —
masih membawa ikrar:
Rapuh, tak pernah runtuh.
Ia seperti pijar kecil
yang merayap lembut di balik angin,
cukup untuk menerangi langkah
meski samar.
Dari kilau itu aku memahami
bahwa cinta sering bekerja diam-diam,
menyelinap di sela-sela napas, tidak melalui gegap
yang disadari semua orang.
Dalam setiap detak jantung,
kudengar irama
yang mengingatkan padamu:
semacam denyut primordial
yang berjalan pelan.
Di antara jedanya,
aku menemukan pelajaran
yang tak mungkin diajarkan
oleh percakapan apa pun —
bahwa ada manis tertentu
yang ditakdirkan hanya untuk dirindukan,
tidak untuk dimiliki.
Begitulah cinta bekerja:
ia menuntun
melalui hadir yang tak utuh,
memperkuat
melalui jarak yang tak bisa dibatalkan,
dan membentuk jiwa
dari segala
yang tidak pernah benar-benar
menjadi milik kita.
---
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 1 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar