Tepian malam

Ada saat ketika hati berdiri di tepi malam,
menatap cahaya rembulan yang tersisa di langit.
Pada batas itu, embun dingin membelai lengan tubuh,
memberi kesunyian yang lembut —
di mana kasih menunggu bisik
tanpa harus diucapkan.

Aku membuka pintu perlahan.
Saat hangat mulai menyusup ke dalam ruang batin,
pikiranku bergerak seperti ombak yang kembali ke laut —
menarik segala keberanian yang sempat mengapung.

Dalam arus itu, aku menangkap detak jantungmu
yang pelan berubah;
gerakan ringan tanganmu yang berhenti;
tatapan mata yang mendua.
Semua terasa tanpa perlu kau beri penjelasan.

Ada kerinduan untuk percaya sepenuhnya,
untuk menyerahkan langkah pada keyakinan
bahwa ketika aku jatuh,
ada tangan yang siap menangkap.

Keberanian semacam itu lahir
dari mengenal retak-retak di tulang jiwa sendiri —
Luka yang belum sembuh,
kekuatan yang perlahan merambat,
dan batas yang mulai berbentuk.

Lewat pergulatan itu, muncul pelajaran tersendiri:
Hati mekar dalam ritme yang sabar,
dalam ruang yang memberi kesempatan
bagi luka untuk mereda tanpa dipaksa.
Ketika jiwa berani menatap dirinya sendiri dengan jujur,
di sanalah kasih menemukan jalan masuk.

Cinta yang dewasa tidak menuntut penjagaan berlebih,
tidak pula menginginkan jarak.
Ia seperti rembulan di malam gelap —
lembut, tenang,
cukup untuk dua jiwa
yang akhirnya menemukan tempat untuk bersanding.


_______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 4 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)