Tinggal, Bukan singgah
Jangan jatuh cinta karena seseorang menaruh sebutir hangat pada harimu.
Kadang musim hanya mampir,
lembut hanya singgah.
Tidak setiap semilir ingin menetap.
Tidak setiap kehadiran berniat menjadi rumah.
Ada hati yang datang seperti awal gugur
menyapa angin
lalu merontok perlahan,
meninggalkan lengang dan tidak pernah perduli sungguhan.
Cintailah dia yang memandangmu tanpa jelaga peran,
yang melihat kerut-kerut jiwamu tanpa mengendurkan langkah,
yang menerima kacau-mu sebagaimana musim menerima ranting:
tanpa menuntut, apalagi meminta syarat untuk menjadi lebih teduh dari yang kau bisa.
Cintailah dia yang tak menuntutmu menjadi langit.
Pertahankan diri.
Meski mendung,
kadang berangin,
Dingin, Asal jujur pada diri sendiri.
Cinta tumbuh dari keberanian.
mengetuk gelap,
mengulurkan tangan,
berdiri di sisi yang tidak selalu nyaman.
Dan saat malam turun lebih rendah.
ia mendekat, menyentuh riakmu
seraya berkata:
“Mari kita perbaiki. Kita selesaikan ini bersama.”
Kalimat lembut meredakan angin dingin yang meluluh.
Pada akhirnya, cinta tidak perlu menjadi gemuruh.
Ia tinggal sebagai bisik yang menetap,
sebagai langkah yang tetap dekat ketika dunia mengguncang tenangmu.
Dan pada satu titik yang sulit dijelaskan,
kau akan mengerti:
ada seseorang yang membuatmu pulang—
dengan hadir yang menenangkan,
dengan diam yang menjaga,
dengan kehangatan yang membuat hatimu berhenti berlari.
Di sana,
kau menemukan dirimu lagi:
lebih utuh,
lega,
lebih siap menjemput musim yang dulu pernah kau takuti.
_____
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 11 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar