Titimangsa ini harus disimpan
Hujan turun melewati batas sopannya.
Tanah yang lama menahan sabar
bergerak perlahan—
seperti keputusan tua
yang akhirnya memilih jalannya sendiri.
Lereng menjatuhkan tubuhnya.
Di lembah yang berkali-kali disumpah aman; oleh grafik, rapat, dan pidato yang berwibawa,
Bukit turun tanpa tanda,
menimpa rumah, ingatan—
menyeret ayat-ayat yang masih basah
di bibir seorang ibu
yang belum sempat menurunkan doanya,
belum sempat melipat mukenah, apalagi menyelamatkan nyawa.
Desa tercatat.
Terbaris manis di antara kolom cuaca
dan tabel evaluasi,
Dibanjiri air mata tak sanggup menampung duka yang hancur menjadi puing.
Seorang anak bekerja
dengan tenaga yang seharusnya ia titipkan
untuk masa depannya.
Dia menyewa besi besar—
alat yang seharusnya dipakai tangan lain,
tim lain, lembaga lain.
Namun ia tahu: bantuan yang dijanjikan
sedang sibuk bersidang dengan kata-kata
yang harus terdengar rapi dan berhati-hati.
Gedung-gedung tinggi berdiri teguh.
Tenang.
Seperti wajah yang menatap dari kejauhan
dengan keyakinan bahwa rasa iba
sudah cukup untuk disebut tindakan.
Anak itu mengangkat ibunya.
Pelan,
seolah dunia bisa hancur sekali lagi
di lengannya.
Angin membawa pertanyaan:
"mengapa langkah pertama
selalu datang dari mereka
yang hanya punya tangan dan doa?"
Sungai menjawab dengan caranya sendiri.
Mengalir.
Tanpa rapat.
Tanpa pernyataan.
Mengabarkan bahwa kasih sering bergerak lebih cepat daripada jam resmi
yang disetel untuk terlihat tertib.
Di antara puing berantakan,
kita memahami sesuatu yang sesungguhnya sederhana:
pendidikan bencana bukan catatan,
bukan prosedur,
bukan kalimat pembuka.
Itu adalah tanggung jawab
yang seharusnya datang
sebelum tanah kehabisan kesabaran.
Titimangsa ini disimpan
agar ingatan tidak kalah rapi dari arsip.
Agar kita ingat:
air mengerti kapan harus meluap,
tanah paham waktu menyerah,
dan manusia seharusnya tau
kapan mesti hadir.
Sejarah harus menulis;
bahwa pada hari itu,
di antara gemuruh bumi
dan doa yang tercecer,
seorang anak memeluk ibunya—
sementara di tempat lain
agenda berjalan seperti biasa.
Dan kita,
yang membaca dari jarak aman,
belajarlah menangis secukupnya,
lalu bergerak seperlunya,
agar kelak tak ada lagi cinta
yang bekerja sendirian
sementara kewajaran
sibuk dipelihara.
November 2025, Agam, Sumatra Barat. Diantara banyaknya korban,
Seorang anak menyewa alat berat sendiri
untuk mencari jenazah ibunya yang tertimbun reruntuhan bekas bencana.
sementara bantuan masih disusun dengan rapih.
Titimangsa ini disimpan,
agar nurani berhenti berpura-pura santun
sambil menyerahkan sisanya pada lupa.
Tanggal dicatat,
agar ingatan tidak mencari alasan.
________
Karya; Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar