Yang pergi jangan kembali

Jangan kejar seseorang yang pergi tanpa sepatah kata.
Jika ia menghilang begitu saja, biarkan bayangnya luruh bersama angin.

Hidupmu terlalu berharga untuk dihabiskan menafsir teka-teki
dari hati yang bahkan tak sanggup menyuarakan dirinya sendiri.

Tetap tenang. Tetap teduh.
Martabatmu adalah lentera yang tetap menyala,
bahkan ketika seseorang memilih memadamkan suaranya sendiri.

Ada yang pergi karena hatinya kusut seperti benang basah,
ada yang pergi karena tak kuat menatap tajamnya ketegasanmu,
ada pula yang pergi karena dirinya adalah kapal
yang tak tahu pelabuhan mana yang ingin ia tuju.

Apa pun alasan itu, biarkan semua berhenti pada batas pintu.
Tidak setiap kehilangan wajib diselami.

Dan bila suatu hari ia kembali
membawa cerita yang terlambat seperti surat tercecer angin,
sambutlah dengan senyum tipis yang tak lagi mencari makna.

Kau telah tumbuh—akar jiwamu lebih dalam,
langkahmu lebih teguh dari gelombang yang mencoba meruntuhkan.

Kau tak menunggu siapa pun;
dirimulah rumah untuk kau pulang.

Jaga diri.
Kau layak dipeluk oleh kehadiran yang jelas seperti pagi,
langkah yang stabil seperti tanah yang tak pernah ingkar,
dan hati yang tidak membuatmu bertanya
pada malam yang sudah kelelahan menampung keresahanmu.

Biarkan yang pergi menjadi pelajaran singkat—bukan luka yang diseret-seret waktu.

Yang setia tampak dari teduh caranya tinggal:
tanpa drama, tanpa dusta, tanpa dinding yang menghalangi suara.

Dan kau—yang tetap tegak meski angin mencoba mengusik,
yang tetap jernih ketika dunia menawari keruh—

Telah menang.
Sejak berani memuliakan dirimu sendiri.


____
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)