Amplop Gemurra

Jam patah menyimpan naskah lama,
Aksara berjalan tanpa gemurra.
Aku membaca hidup sebagai gelar,
padahal sunyi telah lebih dahulu bicara.
 
Pagi kubeli dengan sisa terang,
malam kubawa dalam genggaman.
Langkah bermula dari yang tampak terpisah,
menuju arah yang menolak pemahaman.
 
Daun jatuh perlahan ke tanah basah,
air diam memeluk bebatuan.
Sampiran luruh, isi kehilangan bingkai,
makna bernapas tanpa penjelasan.
 
Angka dihitung lalu dilepas,
dua dan satu bertukar rupa.
Kupikir jarak adalah batas,
ternyata batas hanya cara pikiran bekerja.
 
Pasir menulis doa tanpa tinta,
ombak datang menghapusnya pelan.
Yang dicari lenyap dari cerita,
sebab pencarian pun mulai dilupakan.
 
Aku menyebut “aku” dengan gemetar
Dari penghujung, gema menjawab tanpa wajah.
Yang memanggil dan yang mendengar,
larut menjadi satu arah.
 
Burung terbang tanpa peta langit,
namun tiba tanpa pernah sesat.
Begitu pula langkah menyempit,
saat tujuan tak lagi disemat.
 
Sampiran surat lewat, isi menunggu,
keduanya lebur jadi satu.
Irama batin mengendurkan waktu,
Lalu diam, cukup tau.
 
Akhir tak kunjung menembus tirai malam,
awal telah meresap dalam setiap helaan.

Aku bukan bayangan di cermin samar,
kau bukan bayang di permukaan air yang jernih.
Kita adalah sungai yang melintasi lembah dan bukit, menemukan laut bukan karena tujuan tetapi karena alir.

Pulang —
tanpa berjalan, tanpa peta, tanpa perlu sampai.

______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)